Posts

teman

Ternyata bisa sesederhana itu, Sesederhana meyakini kita masih bisa bertemu Meski kangen tak lagi bernama dan canggung membuat kata tertelan Pelan aku atur lensa dan memori, menyimpan rautmu yang bersemu perih Dan tatap mata yang tak dapat terselami lagi Sudah lama sekali kita tak bertatapan, dan kata mengaburkan semua jejak Dimana aku mencari hangat, kala senyum setengah saja tersungging Dan uluran tangan tak lagi tersambut Dimana mesti waktu dipersalahkan, karena masih saja terasa asing Dan jarak semakin membentang, memisahkan dunia kita yang beda Dalam pagi yang muda, aku tak ingin menoleh tak ingin melambai Sekali lagi, a proper good bye.. tergenggam erat sebuah kartu pos tentang kotamu yang riuh Tarikan tanganmu dalam kata, dan namamu di sudut bawah Membuatku begitu bahagia, menemukanmu yang aku Semoga ini bukan pertemuan terakhir kita, seperti katamu Somehow, kita dipertemukan lagi.. mungkin lain kali kalau kamu tiba2 ngecek g...

Schoenes Wochende

Pak Fahmi rikues saya menuliskan sesuatu tentang perjalanan kami weekend kemari menelusuri selatan. Sudah tiga hari dan saya belum mendapatkan kata-kata dan inspirasi agar bisa menulis dengan baik. Sore ini saya duduk di depan laptop dalam sore tipikal jerman yang dingin dan abu-abu. Lalu mencoba mengingat-ingat tentang perjalanan kami kemarin itu. Dua hari dua malam bersama, menyinggahi beberapa kota, berbincang tentang apa saja. Ada yang tertawa, ada yang marah, ada yang sakit hati dan ada yang berbicara tapi tak ada yang peduli. Berlari, turun naik kereta, mencari kereta yang tepat, kedinginan dan menghitung kantuk dalam goyangan gerbong menembus siang dan malam. Kami masih bersembilan, empat tiket akhir minggu yang manis dan sembilan tiket kereta paling cepat, berdebat tentang apapun, bercanda dan berkompromi. Berjalan dengan ransel yang berat dan sesekali mengabadikan gerak dalam balutan kota-kota di selatan yang disinggahi. Masih saja untuk hal-hal kecil yang terlupakan...

Wilkommen Herbst

My playlist : David Cook "always be my baby" Urban Zakappa "Cafe Latte" Kalau aku bisa seyakin itu, tentu segalanya akan jadi lebih mudah Namun, aku tidak punya apa-apa lagi selain kenangan yang basah kering oleh hujan tak hujan yang turun di kota ini Jendela kelas yang terlalu sering dibuka dan ditutup sambil tersenyum membayangkan cerita-cerita tentangmu yang aku pinta dari angin Dan semua waktu yang ada untuk membiasakan diri dalam cuaca yang mulai dingin Seperti membiasakan diri dengan cuaca hati tanpa garis pelangimu Sesederhana itu dan se-complicated itu Sambil berkemas lagi meninggalkan semua di sini, di kota persinggahan ini dan jendela kamar yang berkabut, Aku tulis namamu dalam embun lalu menghapusnya pelan, dan menulisnya lagi.. Menanti kejutan dalam helai daun yang mulai menguning  gugur sehelai demi sehelai..

cerita hari ini

Minggu pagi yang tak biasa, matahari bersinar lantang. Mata terbuka dengan sedikit cerita tentang cinta, masih saja sedih tapi entah kenapa kami masih bisa tertawa lalu menangis sedikit. Kamar berantakan dengan kenangan. Koper perlu dipacking kembali dan tiba-tiba pakaian kotor menyapa ingin merasakan segarnya sabun dan air. Kamar kembali bersenandung ketika satu bulan terlalu banyak yang diselipkan, ah tak muat lagi. Bahkan plastik hampa udara tak mampu menyedot perasaan yang tiba-tiba riuh. Lalu sebuah pertemuan, setelah lama tak bertemu. Ruang cuci yang seadanya, berani-beraninya memindahkan cucianku dalam wadah merah jambu. Wajahnya bersinar dalam terang ruang. Percakapan yang biasanya, entah kenapa terasa senang menyimak kata-kata. Bahkan bahasa itu tak kukenali, seperti bahasa ibu, mengalir pelan, tak ada yang sulit untuk mengatakan. Nikmati saja, meski rompi itu tiba-tiba menyusut dan lift terlalu cepat menanjak. Kalau beruntung, akan ada selamat tinggal, sebelum kota ini ...

chatting mania

Sebulan lebih ini saya selalu online, mencari-cari teman ngobrol gak jelas. Jam-jam lewat tengah malam waktu indonesia, otomatis nama-nama di chat list saya berkurang drastis. Beda lima jam ini, mau gak mau membuat waktu bicara berkurang. Pagi ketika saya terburu-buru masuk kelas, teman-teman di indonesia sedang pasrah-pasrahnya diajak ngobrol. Siang pas saya balik, sudah pada bubar kantor. Sore mulai agak rame, habis maghrib, sudah sendirian ngutak-ngatik laptop, mati gaya. Dulu waktu adelaide yang duluan lima jam, saya sangat menikmati ngobrol sama teman-teman di Indonesia. Saya balik kampus, semuanya pada bosen di kantor dan tentu saja lebih enak ngobrol sama saya. Pas ndut di NY juga enak, jamnya sama, Cuma beda pagi siang aja. Sekarang ini, saya selalu harus menghitung dengan tangan jam berapa kira-kira di Indonesia. Susah juga nambah lima jam itu ternyata. Trus pertanyaan favorit teman-teman kalau nyapa saya, Cuma satu, jam berapa di sana? Hehehe lalu saya jawab tru...

I won't give up

Ada saat dimana, kamu gak mau menyerah, kalau kata om Jason Mraz, I won’t give up. Saya suka dengan kekeuhnya bang Jason, mempertahankan semuanya. Buat saya, kadang kita harus menyerah. Saat dimana semua usaha sudah dilakukan dan kita terlalu capek menjalani semuanya. Bukan hanya dalam konteks “cinta” saja, dalam kehidupan sehari-hari, dalam banyak hal saya menyerah. Menyerah buat saya, ketika sudah mencoba dan ternyata saya tidak bisa-bisa, terlalu stress ketika melakukannya, atau simple tidak bisa menikmatinya. Kegiatan tersebut antara lain : menyelam, main gitar, buat martabak cane, naik gunung dengan ransel besar di medan yang sulit, nyuci baju putih yang penuh noda, dan merajut. Bukan berarti saya tidak pernah menyelam atau nyuci baju putih. Kalau bisa didelegasikan dengan yang lain, maka dengan senang hati saya mempersilahkannya. Semua pekerjaan/kegiatan pasti memiliki tantangannya masing-masing.  Kita memiliki preference dan bakat di bidang masing-masing. B...

corat-coret

Di kelas tadi, saya mengintip kertas latihan soal teman sebelah saya, ada satu gambar karikatur yang digambarnya sendiri di saat kami terkantuk-kantuk mendengarkan si ibu guru menjelaskan jawaban pertanyaan tersebut. Saya tersenyum, gambarnya lucu sekali. Lalu mengapa seseorang menggambar di kertas latihan soal, buku catatan, dengan gambar yang tidak ada hubungannya sama sekali? Jawabannya, bosan. Kebosanan yang menyerang ditambah rasa kantuk yang sangat. Maka tangan harus digerakkan agar mata tidak tertutup. Sepertinya topik ini sering dibahas di majalah remaja langganan saya dulu dan beberapa teridentifikasi sebagai bahasa bawah sadar yang kadang tak disadari sama yang ngegambar. Pesan ini muncul begitu saja lewat coretan bawah sadar. Kalau saya tidak bisa menggambar terlalu rumit dan saya tau arti gambar-gambar tersebut karena mambaca artikel tentang fenomena ini. Beberapa gambar yang biasanya saya corat coret adalah gambar rumah (artinya pengen pulang dah gak tahan la...