Posts

Showing posts from May, 2008

lelah

sudah cukup sepertinya semua tapakan ini.
aku ingin sebentar saja berteduh di ujung pematang hijau.
dari pagi tak jua kelar kabut itu
dan memberikan aku terlalu panjang waktu
untuk memahami mimpi yang semakin kabur.
tak apa-apalah kalau sesederhana
membaca buku pengantar tidur atau
menunggu jemputan menuju taman bermain yang menjanjikan.
lelahku ini sudah di ambang batas
untuk memahami mauku
dan sedikit kulit luar pembungkus selubung senyummu.
untuk selalu membuatmu ingat aku dan tak berhenti berbicara padaku.
sesederhana itu tapi tak pernah jadi sesederhana itu.
aku tak pernah cukup baik untukmu
dan tak pernah bisa memuaskan egomu.
selalu salah dalam keseriusanku memandang hidup.
selalu terpinggirkan.
aku hanya perempuan yang terlalu naif menantang mentari.
tak bolehkah aku seperti itu?
tak sukakah kamu aku yang selalu mempertanyakan embun
dan debu seakan-akan aku baru mengenal mereka?
selesaikah aku jika aku tak setenang senandung meditasi?
telusurilah aku, dan tersesatlah kita dala…

kisah kita

untukmu akan kutuliskan puisi tentang kemarin yang semakin samar tersimpan dalam memori. sudah seberapa jauhkah kita berjalan menembus dua hujan yang berbeda? menggelapkan sisi terang kita karena terlalu takut merusak satu kenangan tentang kemurnian kanak-kanak yang menambatkan kisah kita dalam dekade yang tak seharusnya. bukan pula salah kita merembeskan semua keanehan dalam percakapan yang tak bisa kita temukan ujung pangkalnya. apalagi yang bisa membuat kita betah tertawa dan membicarakan hal yang remeh temeh tanpa harus terlalu memikirkan apa sebenarnya yang tersurat. Mungkin karena januarimu dan januariku yang terselang sehari membuatmu terlalu identik dengan cara berpikirku. membuat kita hanya dan hanya tidak pernah memiliki waktu yang bersamaan dalam mengakui kita harusnya bisa menari di bawah deru hujan dan bukan menembusnya secepat mungkin.

sea (laut hari ini)

ingatkah saat kamu bukanlah rayuan dalam larik puisiku
dan aku hanyalah baris kata dalam ketik abjadmu ?

Bukankah saat itu harusnya kita kembali,
mengatur waktu untuk bersua, menanti hujan berhenti
sepanjang gelegak sore, membicarakan ada ku dalam email balasanmu
dan ada mu dalam kotak suratku?

biar smua jadi sesuatu yang tersimpan rapi
dalam sedikit celah sejajar runut sajak
"bukan kita penguasa esok"

jadi, senyum saja sebenarnya sudah cukup
untuk meyakinkan ku dan mu
laut dan laut akan selalu menemukan kita

genap

Berbicara tentang masa lalu, kubiarkan semua tersaji dan terlempar lagi. Tak ada yang ingin aku larikan bahkan untuk secangkir pembasuh gerah karena terlalu perih kisah-kisah yang tersusun untuk membagi satu kisah dua kisah itu. Dengarkan kata-kataku, karena nanti aku akan tuliskan ini dalam air yang mengalir sejati antara resah dan gemerlap ketakutanku. Bila kita terhanyut dalam belantara pemikiran tentang kemarin, petikkan aku sekuntum kembang dari gelugur bunga di kaki semak. Punahkan galau ini dalam usahamu memahami maksudku. Tak ada yang tersisa tentang hari ini, saat kita berbagi cermin dalam rangkaian esok dan kemarin. Berhenti sejenak menatap anyaman dari benang masa silamku yang kutambat paksa dalam percakapan sore menjelang malamku. Purnamamu dan purnamaku dan sedikit kelamku, teraduk pelan dalam hirup angin sore pengantar pulangmu. dan bila tak mengerti, lupakan smua tentang aku yang tersulut memorimu, lupakan aku yang di kepalamu karena aku hanya di sini, di sini dalam diri…

sea

Seperti lautkah, kita yang menaikkan permukaan saat pasang dan menurunkan tegak saat surut dan terus seperti itu saat purnama singgah sebentar menyapa kelam?

Pentingkah kita yang berdiskusi tentang hari ini, esok, dan kemarin? kenapa adamu juga seperti laut yang semakin terluaskan saat horison dan matahari yang terbenam menjadi menarik dalam semburat oranye?

Seperti ombakkah, yang semakin berganti, perasaan dan suasana hatiku, menunggu di tepi pantai? Aku menikmati berjalan pelan mengumpulkan rumah kerang yang terserak tanpa sengaja dari belantara lautmu yang tak pernah terasakan alunnya sepasti-pastinya. Aku menarik pandangku pelan dan meluaskan rindu pada sebuah bintang laut biru di dasar sana, yang terimpikan dalam hirupan wangi laut.

Bolehkah aku pergi, sebelum laut kandas? Bolehkah aku sembunyi, sebelum pantai ini kering? aku tak siap mengenal terlalu banyak pantai dan menjadi akrab tanpa sebab.

Aku bertanya lagi, perumpaan laut ini membuatku membenci diriku, kenapa harus berumpama? …

tentang pembicaraan aku dan sahabatku

Sahabat,
tak akan cukup kata untuk kita menjabarkan satu per satu rasa dan perasaan kita tentang cinta dan cinta. Bila 7200 detik terasa hanya sedetik dan masih saja banyak yang harus dibicarakan, maka berapa banyakkah semua resah yang terkandung dalam kepalamu dan kepalaku, terkubur dari masa lalumu dan kemarinku, dan tersembul dari masa depanmu dan hari esokku ? Lalu mengapa kekinian ini hanya kita penuhi dengan gelisah dan rindu akan purnama yang tak pernah jelas cahayanya pink atau kelabu?

Sahabat,
bila perihmu terasakan jelas olehku, dalam sapamu, dalam tulismu, dalam diammu, dalam garis-garis stabilo jurnalmu, dan monitor lebarmu, akankah aku hanya berdiam saja? Adakah udara ("fresh air") cukup redakan sesakmu dan embun masih sanggup mengartikan satu jendela yang menghubungkan mimpi dan nyata? dimana mimpi, saat kita tergugu lalu menguatkan diri kembali, dimana harapan saat, kita menatap bumi yang semakin membiarkan kita jadi apa adanya, dan dimana senyum, saat begitu kab…

malamku kini

Setiap hari dalam bayang usiaku, malam berubah jadi nyanyian pengantar tidur yang memanggilku untuk melupakan sibukku. Hingga aku tersadar, semakin siang saja aku mengartikan malamku. Dimana malamku yang sebenarnya? Mungkinkah aku tersanjung dengan rangkaian mimpi yang membuatku menjadi aku yang berbeda dalam setiap kilatan musim?

Kala matahari terbenam, bergegas aku membungkus smua rasa penat, melangkah menuju satu masa antara aku dan diriku saja yang berbicara. Mengertikah jika kukatakan, aku ingin sendiri? Mungkin juga aku ingin bersama beberapa sosok yang entah sedang apa dan menyambilkan menyapa aku membicarakan pagi? Mungkinkah mereka menunggu sepi mereka luruh dalam hentakan keyboardku? atau memang ini sudah semestinya seperti ini, ibarat garis start dan garis finish yang semakin nyata akan tiba kita padanya. Pastinya aku tidak akan mencuri start, janjiku untuk selalu berlari pada waktu yang telah terukir dan pada keabadian tentang hari ini dan saat ini saja.

kali ini ijinkan aku…