Posts

Showing posts with the label Banda Aceh

Banda Aceh, Tempat Kita Belajar dan Mengajarkan tentang Usaha Pengurangan Risiko Bencana Tsunami

Image
Ketika supervisor dan dua orang dosen saya dari Jerman mengabarkan akan mengunjungi Banda Aceh selama dua hari, maka saya segera menyusun rencana kegiatan mereka selama di Banda Aceh. Penelitian saya yang dibimbingnya tentang tsunami resilience dan universitas tempat saya belajar memang mengkhususkan kajian tentang lingkungan, kerentanan, bencana, dan keselamatan manusia. Saya pikir,  ini adalah kesempatan yang baik untuk memperkenalkan wisata tsunami yang bisa memberikan pembelajaran sekaligus kenangan tentang kota Banda Aceh. Mereka pastinya sudah membaca banyak tentang tsunami dan sudah mengunjungi Jepang yang juga memiliki pengalaman lebih baik dalam mengelola situs wisata tsunami. Namun, saya yakin, Banda Aceh memiliki “sesuatu” yang berbeda, bukan hanya tentang situs peninggalan tsunami tetapi juga pengalaman dan usaha masyarakatnya bangkit kembali setelah bencana. Hal selanjutnya yang saya lakukan adalah berdiskusi dengan Bang Faisal yang akan membantu saya me...

My "Pret" Life

Image
Hadiah ulang tahun saya tahun ini dari si ndut adalah sebuah buku. ini cover bukunya : ada nama saya di covernya karena kata-katanya saya yang tulis Buku ini ide awalnya adalah merekam fenomena-fenomena yang terjadi dalam hidup saya belakangan ini. Seperti, saya agak malas menyisir rambut kecuali kalau lagi pengen, pake jilbab gak pernah rapi, nonton drama korea hampir tiap hari, tidur siang, tiap ke toko buku pasti beli buku tentang jodoh, dan beberapa hal yang sayang kalau tidak direkam. kata pengantarnya dari ndut, ditegaskan kembali, buku ini kado ulang tahun buat saya Kodok, menjadi icon dalam buku ini, karena si ndut cinta sekali sama kata kodok. Makanan kesukaannya kodok bakar dan kodok tulang lunak. kalau buat saya, kodok, adalah gambaran sebuah harapan, suatu saat, kodok akan berubah jadi pangeran.  Sayangnya kodok dalam hidup saya udah nyaman jadi kodok, enggan bertransformasi hahaha my thirty something journey Cerita lucunya, kata melon yang dititipin...

Jalani saja

Semalam, adek saya tercintaaah curhat tentang kegalauannya yang sebentar lagi berganti status dari mahasiswa (status paling keren dan membahagiakan) menjadi dokter spesialis. Curhat semalam dilakukan via bbm dan dalam bahasa inggris karena mungkin curhat dalam bahasa inggris terasa lebih romantis. Hahaha.. Inti percakapan kami semalam, gimana menjalani perubahan kehidupan sehari-hari,  status, tempat tinggal, kota, pekerjaan, gaya hidup, dan sebagainya.  kesimpulannya, adek saya itu galau berat. Perubahan, apapun itu, memang menakutkan. Pengalaman saya, pada suatu titik, kita seharusnya ikhlas menjalani kemana perubahan itu membawa. Misalnya, pas selesai kuliah di Bogor, saya sempat nyewa kamar kos dekat kampus buat setahun sebagai alasan tidak kembali ke Aceh. Saya pulang ke aceh cuma bermodal sekoper baju ala kadarnya,  untuk ikut tes PNS. Menjawab soal ujian asal-asalan, dan berdoa semoga gak lulus, jadi saya bisa balik ke Bogor dan kerja di Jakarta. Lalu,...

2014

sudah lima hari, bulan pertama di 2014. 2013, begitu berwarna terima kasih untuk semua yang sudah berbaik hati meramaikan kehidupan saya di Bonn di Banda Aceh atau dimanapun kalian berada semoga 2014 lebih baik, lebih meriah, lebih seru dan menyenangkan punya teman-teman baru bertemu lagi dengan sahabat-sahabat lama bepergian ke negeri jauh banyak tertawa kurangi galau move on and finally get married, #kode

sejauh jarak antara hari ini dan masa remaja saya

Pagi tadi, meski dari jauh, saya melihatnya lagi. Masih seperti yang ada di ingatan. Entah kapan kami terakhir berbicara. Saya hanya tidak ingin kembali pada masa-masa ketika dia terlalu spesial buat saya. Hanya saja senyumnya dan matanya masih sama seperti dalam ingatan. Dia yang selalu menitipkan dompet dan jam tangannya ke saya setiap pelajaran olah raga. Dia yang setiap habis memangkas rambutnya menjadi sangat pendek, membiarkan tangan saya memegang kepala plontosnya. Lelaki itu, yang memberikan banyak mimpi untuk masa remaja saya. Teman tapi ngarep saya, my best friend paling gak jelas saya. Hahaha.. Sebuah pertanda yang benar, pagi tadi, saya kembali bisa merasakan kehadirannya. Mata saya begitu mudah menemukan sosoknya. Terlalu misterius, pertemuan yang membuat saya tersesat dalam memori. Senangnya bisa melihatnya lagi, meski dari kejauhan. Sejauh jarak antara hari ini dan masa remaja saya.

Dirgahayu Indonesiaku

Salah satu bentuk kebebasan yang saya rasakan semenjak jadi student lagi adalah tidak perlu ikut apel atau upacara. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan rasa nasionalisme dan patriotisme, hanya saja saya terlalu malas untuk ikut apel dan upacara. Berdiri, ngobrol-ngobrol di barisan , tanda tangan absen trus pulang.  Tanggal 17 Agustus selalu mengingatkan saya pada acara pengibaran bendera di televisi. Sejak kecil, ibu saya selalu mengatakan kepada saya, mungkin saja saya bisa jadi anggota paskribaka yang mengibarkan bendera pusaka di Istana negara. Maka hari-hari menuju umur yang pantas untuk bisa jadi paskibra ini sungguh lama terasa. Kepercayaan diri saya sungguh besar dan Ibu saya terus mendukung saya untuk meraih mimpi itu. Ketika kesempatan itu datang, waktu saya SMU, saya baru menyadari saya sama sekali tidak cakap untuk bisa balik kiri, hadap kiri, hadap kanan, serong kiri, serong kanan. Otak saya merasa semua perintah itu terlalu susah untuk dilakukan. Butuh wak...

Mandi Laut

Image
Sore ini, ndut memperlihatkan gambar yang dilukisnya sebagai hadiah ulang tahun melon. Gambar itu, diambil bertahun lalu, ketika kami masih kecil, mungkin kelas empat SD dan ndut masih TK. Hampir setiap hari minggu kami berekreasi ke Pantai Lho´Nga.   Kenapa ke Lho´Nga? karena di Lho´Nga ada alur seperti sungai kecil yang airnya mengalir ke laut. Jadi, anak-anak aman mandi karena airnya tidak dalam tapi masih beraroma laut.   Tradisi keluarga ini sudah berlangsung lama, bahkan sebelum si ndut lahir dan kami punya mobil, konon orang tua saya sangat suka membawa kami ke laut dengan motor.    Saya masih ingat, si ndut selalu menggigil kedinginan karena tidak mau berhenti main air dan harus dipaksa untuk pulang. Perjalanan pulang terasa sangat cepat karena biasanya kami tertidur di jalan. Pas bangun pasti sudah di rumah.       Oia, saya paling malas membantu ibu saya menyiap...

today is my sister birthday

sudah entah kemana, hari-hari kita sekamar berdua dengan tempat tidur bertingkat dan motif sprei yang sama hari kita  memakai baju yang nyaris sama model dan warnanya hari ketika saling mengingatkan untuk menyelesaikan pekerjaan rumah karena mama akan segera pulang dari kantor hari kita berlari-lari berangkat ke sekolah dan pulang lagi karena PR ketinggalan di rumah, hingga sekolah sore, ketika menunggu bu supir datang dengan bunyi klik kunci si "mpok"yang ditekan dari jauh hari ketika kita singgah dulu ke kedai sewa komik, memilih komik, sebelum pulang ke rumah dari sekolah sore sekarang, hari kita terpisah perbedaan waktu pembicaraan kita hanya lewat bbm, membahas ini itu keluhan tentang batuk, luka, dan alergi drama keluarga, drama rumah sakit, drama perantauan sedikit cerita cinta kadang membahas masa depan, "masih belum tahu mau seperti apa, mau melakukan apa.." tapi, hari ini, sudah tigapuluhan usia kita, kapan lu kawin ai? kapan lu ...

si melon

Image
mungkin kita terbiasa melihat seseorang yang berada di dekat kita sebagai orang yang biasa-biasa saja. mungkin karena mereka tak pernah ragu memperlihatkan diri mereka yang apa adanya dan kita terbiasa melihat kekurangan mereka, dan takjub ketika melihat mereka adalah seseorang di luar sana. kemarin ketika melon mengirimkan fotonya dengan koleganya, berjas putih, dengan senyum profesi penuh percaya diri, saya baru tersadar, adek melon saya itu, bentar lagi akan menjelma menjadi seorang dokter spesialis dengan kompetensi yang sangat tinggi. bagaimana bisa, teman berantem dan teman main saya sejak kecil, tak lama lagi menjadi seorang dokter yang mengepalai IGD ? paling tidak saya bisa konsul 24 jam gratis dengan ibu dokter galak ini. meski kadang sarannya dan daya terawang bu dokter ini suka saya ragukan meski akhirnya dia sampai saat ini hampir selalu jitu mendiagnosis lewat foto yang saya kirimkan seadanya. semoga melon bisa segera menyelesaikan studinya dan...

ramadhan kali ini

Banda Aceh yang sungguh terik beberapa hari ini membuat puasa semakin terasa. Tahun ini saya beruntung menghabiskan sepuluh hari puasa di rumah. Tahun-tahun terakhir saya di sabang, sungguh sedih karena sendirian berbuka puasa. Lewat minggu pertama nenek sudah balik ke medan. Tinggalkan saya dan bang Rio berkelana mencari bukaan. Ingat saya, sore itu ketika sudah tak tahan berbuka sendirian, saya ngungsi ke kosan rifqi dan misbah. Kami berbuka bertiga diiringi hujan dan acara tv yang seadanya. Masih bersyukur punya adik kelas yang masih membukakan pintu kosannya buat saya. Puasa kali ini saya juga senang sekali dengan undangan buka puasa kejutan dari si abang kelas yang sudah sering sekali berjanji traktir akhirnya memenuhi janjinya sebelum saya pergi. Menurut kantong pns kami sungguh buka puasa di Pizza H*t sangat-sangat berkelas. Untuk beberapa sajian seadanya lumayan juga si abang menguras kantongnya. Habis tu masih saja dia dengan sangat terpaksa membagi ayam cordon bluenya s...

kenangan terawih

Mesjid kampung saya itu masih tak ramah pada anak-anak yang datang. Meski anak-anak yang datang tak semuanya ribut dan berlarian. Pengumuman yang mengusir anak-anak itu masih saja melukai hati saya, meski saya bukan anak-anak lagi. Terkenang selalu di pintu sebelah kanan tempat nenek saya selalu berdiri bersama teman-temannya. Lalu ada saya, melon, dan tiga teman saya, lalu menjadi dua karena satunya meninggal dunia. Entah beberapa tahun kami berdiri untuk salat di sana, di samping nenek saya, agar tidak ada yang mengusir kami dari barisan depan itu, padahal mereka yang datang terlambat. Teraweh itu terasa panjang dan melelahkan untuk anak-anak seperti kami. Tetap saja kami datang, bukan karena tugas dari sekolah untuk mencatat ceramah, bukan, hanya karena kami ingin salat berjamaah. Kenangan itu masih saja membekas, ketika kami berdiri di sana dalam keluguan kanak-kanak. Pergi selalu dengan semangat ke mesjid, meski kami tak pernah merasa diterima di sana.

Pameran Lukisan Nduut

Kemaren dulu, saya posting poster pamerannya si ndut di wall facebook. Ngetag sana-sini tanpa permisi, sasarannya teman-teman dekat saya, yang kenal ndut. Selebihnya, mungkin ini sesuatu yang harus disyukuri, satu mimpi yang jadi nyata. “Kok bisa sampai pameran..” Ceritanya panjang lebar. Bukan sekedar pengen pamer pastinya, lebih kepada berbagi ingatannya tentang  tanah bernama “Aceh” dengan semua adat istiadat dan tingkah polah yang terekam dalam memorinya sejak kecil dulu. Sejak dulu ndut udah tertarik dengan segala detil-detil yang meng-Aceh. Ingatan ini semakin menguat ketika dia jauh dari tanah kelahiran. Ingatan-ingatan pendek tentang suasana pasar, warung kopi, lambaian selendang, atau pesta kawinan terkuak kembali. Berharap apa yang teringat akan selalu ada dan terlestarikan, meski hanya sesimpel senyum nyak-nyak penjual sayur setiap pagi di pasar Peunayong. Ruang pamer ndut yang pertama adalah dinding rumah saya. Kok bisa ya, orang tua saya berinisiatif ...

Singgah di Perpustakaan

Perpustakaan itu milik seorang yang punya koleksi buku yang sangat banyak. Saya tidak tau, apakah itu dulu rumahnya, atau memang dibangun khusus untuk perpustakaan. Ndut yang mengajak saya mampir ke sana. Entah apa yang dia cari. Meski akhirnya kami berdua berdiri di depan rak buku bertema adat istiadat Aceh. Banyak ternyata buku tentang Aceh. Beberapa masih dalam ejaan lama. Begitu terpesona dengan gambar dan foto yang sangat artistik. Sungguh terpana dengan kekayaan adat istiadat warisan leluhur. Koleksi buku yang entah dimana bisa ditemukan lagi. Buku-buku itu sungguh istimewa. Rasanya waktu berhenti di ruang perpustakaan itu. Dua kakek yang terkantuk-kantuk membaca koran. Seorang bapak penjaga perpustakaan dengan mesin ketiknya yang riuh.  Seorang mahasiswi yang sibuk mencatat dari buku-buku yang terbuka lebar dihadapannya. Dua orang kakak beradik yang lalu lalang, membuka menutup buku, mengambil mengembalikan, menyusuri rak, ya itu saya dan ndut. Banyak buku di...

pesta

Kemarin pagi, tak direncanakan, saya berjalan-jalan dengan sepupu-sepupu saya di tengah teriknya matahari kota Banda Aceh. Kota Banda Aceh semarak sangat dengan hiasan wajah para calon gubernur dan walikota. Pilkada kali ini terasa cukup meriah. Warna-warni, senyam senyum, dan janji-janji. Bukankah sungguh semarak? Buat saya, gambar-gambar itu terlalu mahal. Poster, baliho, stiker, dan semua-semua itu, pada akhirnya menjadi sampah. Apakah tidak ada cara lain berkampanye tanpa mengotori lingkungan dan mata? Kami mengabadikan momen ini. Berfoto-foto dengan latar belakang foto kandidat. Sekedar merekam suasana dan janji. Pada Akhirnya toh, janji tinggal janji dan rasa tak pernah terpuaskan. Ketika amanah diberikan, waktu dibentangkan, maka kerja dan tunaikanlah janji pada rakyat. Kali ini, ingin saya cuma satu, ingin pilkada Aceh yang damai. Tak terlalu muluk dan semoga tak terlalu sulit terwujud.

10 days summer

Maka tertegunlah saya, ketika tante itu masih mengenali saya. Sejak umur berapa saya mulai jadi pelanggan sarapan paginya yang enak. Lontong sayur, nasi gurih, mie besar, mie kecil, ketan dengan gula merah, lupis, dan yang saya paling suka, sesekali dia suka menjual kue apam dan bakwan. Mungkin sejak sekolah dasar, dengan uang dan pesanan yang harus diingat, berapa bungkus nasi pakai ikan apa, atau lontong ditambah lupis beberapa. “ini sari, kan...” sapanya penuh semangat. “Mau beli apa sari...” Saya masih diperlukan seperti anak kecil itu, yang harus mengingat dengan seksama pesanan orang rumah. Lalu mengalirlah obrolannya, penuh semangat. Saya lebih banyak senyum dan menjawab pendek-pendek. Mata  tak lepas memandang hidangan penuh selera. “Iya tante, kalau pulang, harus jajan di sini, kangeeeen..” Entah kangen apa yang terobati ketika membeli sarapan paginya. Ya, hanya saja, sedikit nostalgia, melirik kiri kanan jalan kampung ini yang semakin hijau menuju ru...

Demi..

Salah satu tujuan saya pulang kali ini adalah balik ke dokter kulit setelah dua bulan konsul terakhir. Sore tadi untung-untungan saja singgah di tempat prakteknya. Ternyata saya beruntung, pasiennya tak terlalu banyak. Biasanya kalau tak mendaftar sejak pagi atau sehari sebelumnya harus menunggu sampai tengah malam giliran konsul. Maka saya duduk dengan manis menunggu sembari mengingat-ingat sejak umur berapa saya jerawatan. Ternyata jerawat mulai mampir ketika remaja. Semua obat jerawat pernah dicoba, pembersih muka, sabun cuci muka, sampai odol. Saat-saat sangat desperate dengan jerawat saya suka memencetnya. Maka semakin parahlah kondisi muka saya. Saya mulai berobat ke dokter kulit dengan serius ketika sudah bekerja. Sampai akhirnya menemukan si Bu Dokter ini yang obatnya lumayan canggih mengusir jerawat. Sejam kemudian saya mendapati diri saya berdiri di depan kasir. Konsultasi sepuluh menit itu, memaksa saya mengorek-ngorek isi dompet. Ah, serasa habis dirampok. Emp...

Pulang

Matahari terik membuat keringat bercucuran.  Siang yang panjang dan terang. Mata ingin terpejam, mimpi membawa lari semua gerah.  Daun-daun menguning debu berterbangan. Suara kipas angin, berputar mencari keseimbangan antara gerak dan harapan.  Aku menatap langit yang kembali biru, meski terhalang kaca jendela.  Ah, pulang selalu saja memberikan kesejukan, meski kali ini panas membakar kota ini dan hujan belum sempat menyapaku, meski sesaat. 

Kopi dan Banda Aceh

Setiap meeting di kantor, saya selalu menantikan sebuah pertanyaan, “Mau kopi atau teh ?” Ketika cangkir-cangkir minuman hangat itu mulai dibagikan. Biasanya saya pilih kopi, karena disitulah satu-satunya kesempatan saya buat menikmati secangkir kopi gratis. Hehehe.. Saya jarang minum kopi, jarang ngopi bareng dan kalau ngumpul-ngumpul di kedai kopi biasanya pesan air kacang ijo. Banda Aceh semakin terkenal dengan kedai-kedai kopinya yang tersebar di seluruh penjuru kota dan gampong. Teman saya yang baru pindah ke Banda Aceh, sepertinya sudah mulai tour warung to warung sekalian nonton bola. Kemarin dia mulai terserang flu karena kebiasaan ngopi larut malam ini. Beberapa teman saya memiliki tempat ngopi favorit. Warung kopi yang sudah menjadi rumah kedua, dalam artian kalau dicari di rumah tidak ketemu maka carilah dia di warkop langganannya itu, pasti ada. Konon setiap warkop memiliki ramuan kopi rahasia yang berbeda. Beberapa warkop juga membuat pengunjungnya ...

lontong for sure

Lebaran Idul Adha atau lebaran haji biasanya tidak terlalu meriah dirayakan dibandingkan dengan Idul Fitri. Hanya saja se-tak-meriah-nya lebaran haji di Aceh tetap saja sangat-sangat penuh persiapan dan suka cita.  Kalau tradisi keluarga kami, pastinya lebaran harus ada lontong. Nenek saya dulu adalah penjual lontong yang termasyhur. Makanya saya bangga jadi cucu tukang lontong. Kalau masakan saya dibilang enak, hidung saya langsung kembang kempis, siapa dulu yang masak, cucu tukang lontong.  Hanya saja pujian ini jarang-jarang mampir, biasanya saya hanya jadi kernet, alias chicken chef alias asisten yang pekerjaannya sangat sulit di-recognise-. Chefnya pastinya teman-teman yang lebih jago namun saya sudah punya pengalaman bekerja dengan berbagai chef. Jadinya kemampuan saya sudah boleh diuji sebagai asisten masak yang paling tau diri. Hahaha Balik lagi ke cerita masak lontong ini, tahun ini dipusatkan di rumah saya, karena rumah ...

jasa pengiriman vs kurir

Tadi saya menemani teman saya mengirimkan dokumen-dokumen penting untuk abangnya yang sudah tiba di Jakarta dan lupa membawanya. Si Abang akan berangkat ke Jerman Jumat siang, jadi dokumen itu harus diterima besok. Awalnya kami pergi ke jasa pengiriman langganan saya. Ternyata mereka tidak bisa memberikan jaminan besok dokumen itu akan diantarkan ke alamat si penerima. Padahal dengan jasa pengiriman satu malam mereka harusnya itu bisa dipastikan diterima. Saya bingung sendiri membaca deskripsi pengiriman semalam yang ditempel di dinding. Jadi, satu malam itu bisa jadi ...