kenangan terawih
Mesjid kampung saya itu masih tak ramah pada anak-anak yang
datang. Meski anak-anak yang datang tak semuanya ribut dan berlarian.
Pengumuman yang mengusir anak-anak itu masih saja melukai hati saya, meski saya
bukan anak-anak lagi. Terkenang selalu di pintu sebelah kanan tempat nenek saya
selalu berdiri bersama teman-temannya. Lalu ada saya, melon, dan tiga teman
saya, lalu menjadi dua karena satunya meninggal dunia.
Entah beberapa tahun kami berdiri untuk salat di sana, di
samping nenek saya, agar tidak ada yang mengusir kami dari barisan depan itu,
padahal mereka yang datang terlambat. Teraweh itu terasa panjang dan melelahkan
untuk anak-anak seperti kami. Tetap saja kami datang, bukan karena tugas dari
sekolah untuk mencatat ceramah, bukan, hanya karena kami ingin salat berjamaah.
Kenangan itu masih saja membekas, ketika kami berdiri di
sana dalam keluguan kanak-kanak. Pergi selalu dengan semangat ke mesjid, meski
kami tak pernah merasa diterima di sana.