Posts

Showing posts with the label Kontemplasi

His story

semua potongan-potongan itu akhirnya terangkai dengan sendirinya apa yang lebih menyentuh daripada sebuah kisah yang ditingkahi petikan gitar tentang hantu dari masa lalu dan ketidak-pekaan yang keterlaluan dan entah kenapa, malam ini kamu membukanya ruangan itu tiba-tiba terasa pengap, aku tak bisa bernafas aku tak berani menatap matamu ah kamu selalu saja seperti itu berbicara sedikit lalu mengatakan sesuatu yang membuat tidurku malam ini jadi perjuangan panjang pasti tak mudah untukmu mengatakannya, untuk membuat seseorang merasa lebih baik (kamu selalu seperti itu) hantu itu akhirnya kamu biarkan ikut bernyanyi semoga itu juga melegakanmu karena aku percaya, hantu itu pula yang membekap mulutmu selama ini membuatmu begitu berhati-hati menyimpan rapat segala sesuatu yang keterlaluan akan ada selalu kenaifan memandang hidup mengartikan senyum sekali lagi maafkan ketidakpekaanku seperti lirih senandungmu.. I'm thinking out loud Maybe we found love rig...

lima belas tahun yang lalu

Niat awalnya menulis tapi sebelum bisa serius menulis, saya masih harus berputar-putar. Pagi hari, membalas email dhani, lalu ketemu dengan mbak ayu buat daftar les bahasa Jerman (lagi) dan nongkrong sebentar di kedai kopi, setelah sekian lama tidak pernah sempat melakukan itu. Makan siang dan balik ke meja dan tersesat di facebook, nulis blog (sekarang), tapi dokumennya sudah dibuka (lagi mencari inspirasi menulis) excuse hehe kemarin lumayan bisa nulis tiga halaman, dan berharap hari ini bisa seproduktif itu lagi. kemarin saya mencuci foto-foto yang saya pilih untuk menemani saya menulis di rumah. foto-foto manusia favorit saya. menempel dan mengaturnya sebuah keasyikan tersendiri. dan tadi melihat di facebook, sudah angkatan 52 di IPB, mahasiswa baru sedang mengikuti acara orientasi jurusan. Ah, jadi ingat, perempuan imut-imut itu, dengan kemeja kotak-kotak dan satu-satunya rok hitam yang dipakai untuk dua minggu masa orientasi. sungguh terlalu, rok itu dipakai tiap hari d...

teman baik

Kalau ini, jelas sekali, posting curhatan haha.. iya mau curhat, kenapa susah sekali untuk tidak menjilat ludah sendiri. Misalnya kalau udah ngomong, selesai, mau move on tapi ujung-ujungnya malah balik lagi sama alur cerita yang sama. kalau kata ibu saya, ya seperti itulah orang pacaran. berantem baikan, baikan berantem. mang saya pacaran ? tentu saja itu tidak. siapa juga yang pacaran. kami cuma sahabatan. sahabat baik, atau dalam level yang lebih rendah, teman baik. hanya saja, waktu gak bisa berbohong, kalau telah banyak waktu yang dihabiskan sama-sama, jadi bukan hanya sahabat dalam arti harfiah tapi jiwa juga sudah bersahabat. dan menurut saya, salah satu anugerah terbesar adalah memiliki sahabat. ngeliat sahabat saya itu nunjukin sepatu barunya ke saya, makan roti karena kelaparan, nyari-nyari acara TV yang bagus, sambil cerita mimpi-mimpi dan pacar barunya. Ah, sayang sekali, dia sudah punya pacar baru yang saya pikir, itu cuma bohongan saja, biar saya cemburu...

waktu yang tepat

Semua itu cuma masalah waktu saja, tidak perlu dipercepat atau diperlambat. Jalani saja. Kalau sudah waktunya, maka itu akan terjadi. seperti nenek yang akhirnya bisa baikan dengan mantan kecengannya, hanya butuh satu kesempatan buat ngomong kembali, bertukar nomor hape, dan hampir pingsan dapat sms "yoii" dan  bonus emoticon :D dari dia yang rasanya tak mungkin bisa berbaikan lagi. seperti saya, yang akhirnya, setelah berbaris pertanyaan saya dan perbincangan saya cuma dibalas, "semoga kamu sukses ya..." lampu merah, harus stop, dan ini waktunya buat say good bye kali ini silent good bye saja karena saya dan dia telah melalui terlalu banyak keriuhan karena dan hanya karena sudah tiba waktunya hanya satu kata buat waktu yang tepat untuk memulai atau mengakhiri lega mari tersenyum :D

Roses

Teman saya nitip bunga buat saya, bunga mawar merah, yang dengan patuh dibelikan juga oleh kecengannya yang kebetulan lagi di Bonn. Si kecengan yang unyu ini, naik sepeda satu jam buat janji ketemu saya, menunaikan amanah membelikan bunga buat saya, dan mengambil titipan saya buat teman saya yang akan ditemuinya hari ini dengan enam jam naik kereta. saya dan si cowok ngobrol banyak karena dia berbahasa Indonesia dengan lancar. Si cowok ini ahli pertanian, khusunya bunga dan buah-buahan. sempat dia berpesan pada saya untuk memotong ujung tangkai bunga ketika memindahkan bunga ke dalam vas bunga. Sementara saya, sangat bahagia membawa sebuket mawar merah pulang ke rumah. Mawar merah selalu berarti cinta, teman saya itu mencintai saya dan niat banget menyenangkan hati saya dengan mengirimkan utusan hatinya. saya sangat bersyukur karena mendapatkan perhatian sebesar itu dan terheran-heran dengan ide teman saya yang sanga...

September di hatiku

September, begitu banyak yang terjadi. Masalah-masalah yang sangat pribadi sehingga sulit untuk bisa menuliskannya di blog. September ini, saya lebih banyak menulis diary, agar semua hal penting tersebut tidak terlupa dan jadi pelajaran untuk di masa depan. September, hari semakin pendek, pagi yang mendung dan malam semakin cepat menjemput. Daun malu-malu berguguran dari pohon. Alhamdulillah semua terlalui dengan baik. Akhir bulan ini saya akan pulang dan melakukan fieldwork yang kedua di Aceh. Semua persiapan dan checklist yang dibuat bisa dilaksanakan dengan baik. Mulai dari meeting dengan supervisor, ngurus visa dan buat kuesioner. September ini, beberapa kejadian membuat saya seperti terlahir kembali, menjadi kupu-kupu yang keluar dari kepompongnya. Saya jadi punya sudut pandang baru dalam memandang beberapa hal dalam hidup yang selama ini saya yakini kebenarannya. Beberapa catatan yang saya bisa bagi, kita harus selalu siap dengan ketidakpastian, jangan takut menghadap...

cerita sahabat

Kali ini bukan adelaide-adelaide, atau adelaide-bonn, atau padang-bonn, tapi kuala lumpur-bonn. Akhirnya sahabat saya memulai satu petualangan lagi dalam hidupnya, keputusan besar dan diambil dengan sungguh-sungguh. Hal yang paling indah dari sebuah persahabatan adalah tetap bisa berbagi mimpi dan kisah. Kali ini kisahnya tentang tetap menjadi seorang perempuan yang tau apa yang diinginkannya dan tidak kalah oleh tekanan, keterbatasan, dan percaya untuk tetap bermimpu. Sahabat saya berani memilih yang terbaik untuk hidupnya dan dia tau dia memiliki pilihan-pilihan itu. Saya juga nanti pengen seperti sahabat saya, berani melihat pilihan-pilihan yang ada dan tidak kalah dengan apa yang dianggap normal, wajar, seharusnya, sepatutnya kami lakukan. Kami sudah berjalan sejauh ini, tidak ada alasan untuk merasa tidak berdaya dan hanya menerima. Toh, hidup cuma sekali. Hanya saja, mimpi kami masih tetap sama, tentang hidup yang lebih meriah, rumah dengan halaman luas, dan teman sepe...

Catatan tentang perjalanan mengunjungi Andalusia

Saya yakin teman-teman sudah pernah mendengar tentang buku 99 cahaya di langit eropa. Bahkan mungkin ada yang sudah pernah membaca atau membelinya. Saya, sampai saat ini, hanya pernah menonton filmnya di Bioskop, bagian pertamanya, yang sejujurnya, berada di bawah ekspektasi saya. Padahal saya dan adik saya, bela-belain menontonnya ke bioskop, dalam kunjungan kami yang singkat ke medan, kami menyempatkan diri menonton di Bioskop. Hanya karena kebesaran nama buku tersebut. Namun, hingga saat ini, saya tidak ingin membaca buku itu. Saya percaya, setiap buku ada waktu yang tepat untuk dibaca. Setiap buku, tidak harus dihabiskan. Seperti ketika saya membaca Alchemist atau tidak pernah bisa membaca laskar pelangi hingga tuntas. Bedanya, buku 99 cahaya di langit eropa ini, garis besarnya pernah diceritakan oleh teman saya yang membacanya. Waktu itu, cara dia bercerita sungguh mempesona hingga membuat saya bertekat mengunjungi tempat-tempat yang diceritakan di buku itu. Maka, ketika a...

Perempuan tigapuluh dua tahun ini

Saat ini, saya mulai membuka diri  untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang mengapa saya belum menikah hingga saat ini? apakah saya terlalu pilih-pilih? apakah saya mengejar karir? kenapa saya lebih memilih bersekolah daripada menikah? Apakah saya tidak takut dengan usia saya yang semakin tua? Pertanyaan ini masuk dalam urusan-urusan pribadi saya yang sekarang ini tidak lagi saya jawab dengan tersenyum saja. Saya akan menjawabnya dengan terbuka dan jujur. Topik pernikahan ini akan selalu dikaitkan dengan usia. Umumnya untuk perempuan Indonesia, tingkat kegalauan belum menikah, semakin bertambah dengan bertambahnya umur. Misalnya, tingkat kegalauan seorang perempuan yang baru berumur duapuluh tahun, seharusnya tidak mengalahkan perempuan yang berumur tigapuluh dua tahun. Namun, realitanya, belakangan ini, saya berkenalan dengan perempuan-perempuan muda yang baru menempuh tahun pertama di perguruan tinggi tapi sudah menggalau tentang pernikahan. Mereka memiliki keinginan be...

hari ini membaca tentang ndut

Image
Sore ini, saya melihat notifikasi facebook dari grup Gaminongblogger. Ternyata seorang teman menulis tentang sepak terjang si ndut di   blognya . Tulisannya bisa dilihat di sini . Membaca tulisan teman saya ini, saya jadi ingat awal mula si ndut mulai ngeblog. Awalnya blog itu kami buat untuk mempromosikan temurui clothingline. Karena blog tersebut gak diupdate-update jadinya saya sarankan ndut buat ngisi blog tersebut dengan kegiatan kesehariannya waktu itu, menjadi anak magang di sebuah taman di New York. Supaya bisa berbagi dengan banyak orang dan catatan kehidupannya di sana. Lalu, dalam percakapan-percakapan panjang kami tentang ngeblog, dalam menulis blog, mau tak mau kami harus membuka zona-zona pribadi kami dengan khalayak umum. Kadang ini juga menciptakan situasi yang gimana gitu, apalagi blog saya yang isinya curhatan semua. Seperti sebuah infotaiment yang dibawakan diri sendiri.Namun, saya sulit menulis yang serius di blog, ngeblog artinya nulis santai gak pake mikir. ...

selamat menempuh hidup baru sahabatku

Image
Penghujung Maret, dua orang sahabat saya akan menikah, pada hari yang sama, hari Sabtu ini. Pernikahan mereka sudah dinanti sejak lama dalam proses yang tak mudah, dan akhirnya, momen indah ini terwujud pada saat yang tepat. Sebagai sahabat mereka, saya sangat bahagia. Mereka sudah melewati semua ujian tentang cinta dan kesabaran, semoga pernikahan ini, membuat mereka lebih dewasa dan bahagia. Will you marry me ? Sahabat saya yang pertama, berproses hampir duabelas tahun. Bukan waktu yang sebentar, sejak kami masih duduk di tingkat tiga universitas. Saya mengenal calonnya, karena waktu itu kami satu fakultas. Sahabat saya ini juga selalu berbagi cerita dengan saya, dan meski sejak lulus kuliah kami tak pernah sekalipun lagi bertemu, kami masih berkomunikasi. Maka berita bahagianya ini, membuat saya terharu biru. Akhirnya sahabat saya itu berhasil memenangkan cintanya. Sahabat saya yang kedua, berproses hampir tiga atau empat tahun. Cerita dari awal hingga akhir bahagia ini,...

suatu hari, di New York

Siang kemarin, saya menelpon sahabat saya Uci. Uci baru pulang konferensi di Washington DC dan sempat jalan-jalan di New York dua minggu lalu. Cerita Uci, Washington mirip Adelaide, kontur kotanya mirip Bedford Park, suburb tempat tinggal saya dulu di Adelaide. Intinya, Amerika biasa saja, nothing spesial. Mungkin karena kami memang lebih menyukai eropa. Uci lalu meminta saya menulis sebuah novel tentang perkenalannya dengan seorang perempuan di New York.  Ceritanya seperti ini : “Aku bertemu seorang perempuan di Hostel tempat aku menginap di New York. Perempuan ini berdarah turki, muslimah dan tinggal di Jerman. Setiap pagi dia selalu menanyakan padaku, aku kemana aku hari ini. Dia ingin berjalan denganku. Aku tidak keberatan berjalan dengannya, meski aku tau, bisa saja dia mengeksplor kota ini sendirian. Aku juga melihat dia sedang memikirkan sesuatu. Suatu masalah yang cukup berat, hingga membuatnya hanya diam di tram atau sepanjang perjalanan. Aku membiarkannya...

Lebaran tahun ini

Setelah tahun lalu berlebaran Idul Fitri di Dortmund, tahun ini saya berlebaran di Stuttgart. Rabu siang itu ketika saya berangkat ke stasiun, langit Bonn mendung. Hati saya jadi sedikit galau meninggalkan Bonn dan teman-teman seperjuangan yang akan berlebaran di Bonn. Sudah jauh-jauh hari saya ikut mendengarkan persiapan panitia salat Idul Fitri bahkan sabtu sore saya ikut mengantarkan uang sewa gedung Vapiano yang akan digunakan untuk pelaksanaan salat Id. Namun, keputusan buat berlebaran di Stuttgart sudah saya pertimbangkan matang-matang. Rabu pagi, rencananya saya tidak pergi ke kantor lagi. Tapi ketika saya nge-check email, si supervisor meminta saya untuk menemuinya hari senin untuk mendiskusikan conceptual framework saya. Maka saya terburu-buru ke kantor dan mengambil semua bahan tulisan saya untuk saya kerjakan sepulangnya saya dari stuttgart. Hati saya agak galau juga, mengingat janji meeting hari senin. Saya berusaha untuk menikmati libur lebaran dengan tenang dan me...

patah hati yang tak seberapa itu

Kali ini, saya ingin berbagi tentang tips mengatasi patah hati dalam waktu sesingkat-singkatnya. Pengalaman berkali-kali broken heart membuat saya memiliki banyak alternatif "aktivitas" yang bisa dilakukan untuk meringankan mellow yang berkepanjangan. Ini yang saya lakukan seminggu kemarin dan cukup efektif membuat saya kembali agak normal dalam minggu kedua. Pertama, saya ingin memotong rambut. Namun, setelah sekian lama tidak gondrong, rasanya sayang juga memotong rambut. Pilihan kedua, makan cokelat. Berhubung kejadian ini bersinggungan dengan Ramadhan, maka cokelat yang sudah saya pilih dengan seksama, menjadi penghuni lemari es. Hanya pada waktu berbuka dan sahur, satu dua potong menggoda untuk diemut. Pilihan ketiga, jalan-jalan. Pilihan ini sepertinya cukup membantu. Apalagi kalau bisa mengunjungi sahabat di luar kota. Maka, rasanya seperti pulang ke rumah dan bertemu dengan keluarga sendiri. Melihat tempat-tempat cantik dan baru. Berfoto-foto dan menikmati peman...

naik pangkat

Hari ini cuaca Bonn, mendung parah, entah galau apa yang menggantung di langit. Kabut menyusup pelan dan semua tampak abu-abu. Meski saya suka warna abu-abu, tapi langit abu-abu sungguh menurunkan mood buat ngapa-ngapain. Hanya saja, hari ini hari yang patut disyukuri. Teman saya pagi tadi memberi kabar SK pangkat saya sudah keluar. Tidak terasa hampir tahun ke sembilan saya memiliki NIP, dengan masa naik pangkat normal, kini saya sudah berada di level tengah. Cuma, saya tidak pernah punya jabatan, saya cuma staf yang terlalu beruntung memiliki atasan-atasan yang baik hati mengijinkan saya menangkap mimpi-mimpi saya yang bertebaran. Lalu, dengan modal NIP itu saya bisa sekolah lagi dan merasakan peradaban yang lain, melihat negeri-negeri yang jauh, dalam pengembaraan yang tak ada habisnya. Jalan cerita karir saya, sungguh berbeda dengan PNS di kabupaten kota yang lain. Saya berkelana dan mencari sesuatu, entah apa. Jangan tanya mengapa saya tidak menetap dan masuk dala...

once upon in Paris

Image
melihat foto-foto saya di paris, ngeliat foto Eiffel, saya jadi ingat Pembimbing Lab saya waktu mengidentifikasi kepiting di LIPI. Beliau bernama ibu Yoyok, studi master dan doktornya diselesaikan di Prancis. Waktu itu, saya beberapa kali memintanya menceritakan tentang Paris. Atau dalam email-email kami, ketika kebetulan dia berkunjung ke Paris, saya memintanya mendoakan agar suatu saat saya bisa menginjakkan kaki di sana. lalu beliau selalu berkata, suatu saat saya akan melihat paris dengan yakinnya. sembilan tahun kemudian, saya sudah lupa tentang percakapan kami tentang paris. bahkan ketika di Parispun saya lupa tentang beliau. entah kenapa, beberapa hari terakhir saya teringat si ibu. Ah, mungkin saya bisa melihat paris karena doa si Ibu.Terima kasih Ibu, untuk semua keyakinan dan doa bahwa saya bisa menginjakkan kaki di eropa, meski harus menunggu sembilan tahun. dari balik mikroskop, ketika menghitung jumlah kaki kepiting, saya tak pernah membayangkan apapun tentang neg...

minimalis

Sebuah tulisan di blog http://mnmlist.com/walk-away/ sungguh sangat menginspirasi saya. Tulisan ini intinya mengajak kita untuk hidup sederhana, apa adanya, dan setiap saat mengevaluasi apakah semua yang kita miliki memang kita butuhkan atau hanya sekedar pemuas keinginan. Saya pernah berdiskusi dengan ndut tentang, sebenarnya berapa banyak celana yang kita butuhkan? Kalau kata ndut, kalau mau jujur, satu saja sudah cukup. Cukup warnanya hitam, sehingga tidak ada yang notice bahwa seminggu celana itu dipakai setiap hari. Kalau mau amannya, dua potong celana. Sudah lebih dari cukup. Waktu saya mengikuti ospek di IPB, saya harus memakai rok hitam setiap hari. Keadaannya waktu itu hampir sama dengan saat ini. Saya hanya membawa satu koper ke Bogor dan saya cuma punya satu rok warna hitam. Maka setiap hari saya memakai rok hitam itu. Kalau rok itu sudah kotor sekali, pulang kuliah langsung saya cuci dan jemur. Segala kreativitas dilakukan agar rok itu kering dan bisa dipakai lag...

a lovely Ramadhan

Apa saja amalan Ramadhanmu ini sahabat? Waktu masih di Banda, saya berkata pada diri saya, nanti kalau sudah di DE saya akan lebih rajin shalat dan tilawah, karena pasti tidak akan kepanasan meski tidak ada AC. Ramadhan kali ini memang sangat panas di Aceh hingga harus shalat minta hujan. Ketika sampai di sini, dalam beberapa hari penyesuaian waktu siang yang terlalu panjang dan jam biologis yang amburadul (alasan) saya meninggalkan salat terawih dan witir. Lalu perlahan mulai mengatur strategi buat menjalankan salat sunat di bulan Ramadhan itu. Membaca al-Quran yang sejak saya di Haji belum khatam juga karena sehari Cuma satu halaman saja. Namun godaan buat online sungguh tak terelakkan. Maka lebih banyak mungkin saya di depan laptop daripada duduk tenang dan bertilawah. Ketika jauh seperti ini, sungguh saya mengerti, satu-satunya pertolongan yang paling besar hanya dari Allah Swt. Bulan Ramadhan yang sungguh penuh berkah ditempat yang jauh ini memberikan saya kesempatan bua...

he told me, my wings are purple

Libur yang seadanya, seakan-akan menjadi suatu jeda saja, dari sebuah kesibukan yang akan segera datang. Sedikit menghitung hari, tiba-tiba tanggal menjadi jelas, apa yang harus dilakukan, kapan, dan semakin banyak dan banyak. Menjejak semua langkah, dimana semua simpanan kekuatan, ketika tak ada lagi waktu melihat ke belakang atau ke depan. Pada sebuah titik, menuju kepakan yang kencang, dan sayap tambal sulam ini, pada saatnya harus diajak terbang.. Kata dia, sayapku berwarna ungu..

warna-warni

Ternyata hidup tak hanya hitam putih. Di Jakarta ini saya mengenal banyak teman baru dengan warna-warna yang cerah ataupun kelam, dan mereka tak pernah malu menunjukkan warnanya kepada saya. Warna-warna itu kadang membuat silau, kadang membuat takjub.  Hingga saya tak pernah bisa menahan diri mengajak mereka berbicara tentang dunia mereka. Percakapan-percakapan yang membuka sisi lain kehidupan, menepikan kenaifan saya memandang hidup, atau malah menonjok saya hingga tersungkur malu. Membuka mata, membuka hati, dan menikmati warna-warni hidup, merenung sedikit dan terdiam lama....