Posts

Showing posts with the label Puisi

lelaki dan perempuan lupa ingatan

Itu rupanya alasan yang membuatmu selalu bisa memaafkanku sehebat apapun pertengkaran kita Itu rupanya alasan yang membuatmu mengatakan hal sepenting itu tidak pernah terjadi di antara kita Itu rupanya alasan seseorang bisa begitu saja kamu hapus dari sejarah hidupmu seakan-akan dia  tidak pernah ada ah lelaki lupa ingatan akhirnya aku mengerti mengapa kita selalu terjebak dalam bincang hari ini salam manis dariku, perempuan lupa ingatan

please dont stay in touch

Maaf, aku memakimu aku jahat karena mengatakan hal yang seperti itu dan aku bukan siapa-siapa yang berhak memperlakukanmu seperti itu Maaf, aku memakimu terserah kamu mau memaafkanku atau tidak yang sangat pengecut mengatakan hal yang seperti itu lewat email pula "jika memaki, katakan langsung, lihat reaksi orang yang kamu maki" Ya, akan kuingat, jika aku akan memakimu sekali lagi aku akan mengatakan langsung di depanmu dan aku akan lihat reaksimu Maaf, aku memakimu dan maaf sekali lagi karena aku pikir kamu tidak perlu semarah itu karena kamulah yang mengajarkanku untuk memakimu dengan perantara lirik lagu dan sedikit senyum skype 23.6.2015

hari ini

pagi dua buah kartu pos, kata-kata yang ditulis kecil-kecil dalam kolom yang tak seberapa siang percakapan dari hati, tentang aku dan kamu di sana,  memutus kangen menyambung asa sore beberapa email, sekedar menyapa masa lalu karena terpisah dalam riuhnya hari malam percakapan panjang dalam karib yang masih saja menyentuh kalbu sebuah kartu pos, yang entah kapan datangnya hari ini, sibuk mengumpulkan puzzle meski hanya satu keping,  tak akan aku biarkan terserak

sepotong sepotong

Ketika hari terlalu gerah dan  terlalu panjang Menguapkan rasa dalam percakapan sepotong sepotong Penasaran mencari  dimana kita akan menyerah atau tak akan menghilang pada angkuh Ketika : aku berhenti bertanya karena kamu sama sekali tak menjawab (Meski  sepotong-sepotong) Begitu saja, menggantinya dengan senyap yang dalam

eins zwei ---- drei

dua Datangmu dari pengembaraan panjang Masihkah aku tempat pulangmu Di sini padang ilalang telah jadi gurun Dan rindangnya pohon hanya tinggal bisikan Sekali lagi, pergilah, jangan pernah kembali satu Apa yang ada di antara hening dan senyap Aku tak ingin menebak dan masih saja berbaik sangka Akan ada sebuah persinggahan ketika semua warnamu membias Sementara waktu akan membawaku padamu Aku relakan semua menjadi jelas dan pintas Mungkin kita tak akan bertemu dalam bingkai hari yang nyata tiga Selesai Aku tak punya tiga lagi Bebaslah aku dari kepak sayap burung dan siulan pengantar tidur Selamat tinggal

satu puisi lagi

Masih dalam rangka bergalau-galau dengan perantara kata, saya menemukan sebuah puisi yang keren di buku kumpulan puisi.  Awalnya cuma mengerti beberapa kata, ternyata setelah di cek di mesin penterjemah, tebakan saya tentang maksud puisi ini tak jauh meleset. Maafkan versi bahasa Inggrisnya yang seadanya. Cekidot.. Telefonischer Ferngruß Joachim Ringelnatz Ich grüße dich durchs Telefon, Guten Morgen, du Gutes! Ich sauge deiner Stimme Ton In die Wurzeln meines Mutes. Ich küsse dich durch den langen Draht. Du Meineinziges, du Liebes! Was ich dir – nahe – je Böses tat, Aus der Ferne bitt ich: Vergib es! Bist du gesund? – Gut! – Was? – Wieviel? – Nimm´s  leicht – Vertraue! – Und bleibe Mir mein. - - Wir müssen dieses Wellenspiel Abbrechen - -Nein ~  dir  ~ Dank! - - Ich schreibe! –  Telephone long distance greetings Joachim Ringelnatz I greet you on the phone, good morning to you good! I suck your voice sound in the r...

eins drei zwei

eins Berapa lama menunggu, tiga baris yang seadanya Datar, sedatar mimpi yang tak pernah terlalu penuh Bermekaran bunga di musimmu, angin berhembus kencang di sini Lieber Schatz, musim kita tak akan pernah sama.. drei Jakarta, ketika kakimu menjejak, tak ada aku Lalu kembali pada kotamu, tanpa pamit Semaumu Semauku, sudahi saja.. zwei Bandung,  sapamu penuhi kotak Sebaris dua baris, pada hari yang gerah Berteman aksara yang riuh, tak pernah jadi nyata Sibuk, menahan rasa dan perih...

pada kotamu yang teduh

Matahari hampir hilang ketika kutinggalkan kotamu Rinai hujan merenda jendela dan lampu mulai menguning berpijar Rekatkan semua senyum yang masih saja mengingatkanku pada sebuah taman menghadap laut biru duduk membaca buku dan mengurai mimpi yang terapung-apung pada kapal di ujung cakrawala Pada kotamu ini akan aku kembali, memunguti remah kemarin membungkus kilat-kilat pada pohon berkelimpahan oksigen dan rumah-rumah tua teduh dalam ingatku masih pada senyum itu dan pendar sayap perakmu, aku menanti, setiap kali selamat tinggal untuk bertemu kembali.. @Bandung, satu akhir pekan yang berhujan.

Genug

Aku tidak tau berapa banyak kata yang aku miliki hingga aku bisa berbicara, mengatakan isi hati, atau sekedar berkomentar Rasanya ingin aku menghitung, berapa sudah kata yang ada di kepala ketika aku bisa menuliskan padamu beberapa kalimat atau berlembar surat Sepertinya aku memiliki kata yang tak terhingga karena aku mengerti makna setiap kata yang kudengar Sebenarnya berapa jumlahnya kata yang aku pahami sehingga tak sulit bagiku membuat kalimat untuk gambarkan rasaku Dan beberapa bait puisi yang terngiang  hanya dengan memikirkan namamu Lalu saat ini, entah berapa kata yang aku miliki berlalunya waktu sulit bagiku memahami susunan huruf Semakin rumit bertemu rangkaian kata terbentur ketika menggetarkan pita suara terdiam lama, sebelum bisa berkata-kata, Hanya saja, untuk sekedar menulis Satu kalimat dalam bahasa itu, tentang perasaanku padamu bisa, tak perlu menghafalkan semilyar kata Ich liebe dich.. Cukuplah sudah.

tentang aku dalam pikirmu

Maaf, jika hidupku tak terlalu menyedihkan seperti pikirmu. Masih ada pelangi dan hujan yang turun pagi-pagi. Maaf, jika aku tak bisa menyenangkan egomu karena mengatakan aku bahagia saat ini. Bukan hidupmu saja yang berkilauan, hidupku juga penuh warna-warna pastel. Harapmu aku akan selalu terpuruk, mengeluh, dan tersudut. Tentu tidak, mentari masih berbagi terang dan sungguh tak ada lagi cerita kemarin. Mungkin tak harusnya dirimu bertanya dan ingin tahu.  Mungkin dirimu yang tak pernah lepas dari bayang masa lalu. Mungkin. Ya, seperti ini saja, lupakan aku, dan jangan pernah berpaling lagi padaku. Meski kita masih bisa berbicara tentang hari ini, aku pastikan esokku tak sekelam imajimu. 

satu sore bersamamu

Duduk denganmu berbagi hari Potongan cerita kemarin berserak penuhi meja cerah warna gelas, sedikit pendar kristal serupa hatiku yang berpendar oleh tanyamu, “ maukah bertemu denganku ?” Duduk di belakangmu yang mengendara pelan “selamat ulang tahun” Bisik lirih dalam riuhnya rasa Akhiri sore yang sendu dan penuh rindu..

hingga tak perlu lagi ..

Keluar dari cerita biasa kita  melakukan hal yang berbeda pada satu hari yang cerah terbersit untuk mengurai mimpi masa depan menjadi sesuatu yang lebih, kisah yang bisa saja ditapaki berdua Apakah kita telah berdiri di tempat seharusnya ? dalam hari-hari mengenal yang karib Hingga tak perlu canggung lagi, saat bersisian menatap esok

seperti yakinku

Masih terlalu pagi ketika aku menemuinya di belantara rasa Jendela hati belum pula sempat kubuka, aku terlalu larut memandang pagi Embun menanyakan keresahan yang mengirimkan berlembar surat menceritakan segalanya Aku tersenyum saja, sempat-sempatnya dia menulis dan bercerita Sementara di sini aku duduk berbagi sepotong kue dengan sang pagi Mimpi-mimpi malam tak pernah mengatakan yang sesungguhnya terjadi Tentang keyakinan yang tak kunjung mau pulang Pagi ini juga tak ada bedanya, semakin aku memintanya meninggalkan aku dan membiarkan aku berdiri di depan jendela dan mengucapkan selamat tinggal semakin kukuh dia memintaku untuk mendengarkan sebaris dua baris puisi yang tak menarik dengan pengulangan kata dan kalimat yang tak runtut lalu seperti inilah sukanya dia, aku mau mendengarnya menceritakan tentang besok mungkin saja dia sudah terlalu lelah mengarungi hembusan angin pagi dan aku tak bisa percaya akan kicau...

w i b g

Bukankah sudah penghujung tahun kemana waktu membawa berlari tiba-tiba hujan akhir Oktober turun deras di hati Berikan tanggal, hari bulan tahun Berikan sebuah penanda waktu, jam menit detik Cukupkan semangat untuk menunggu Sebentar lagi, sebentar lagi aku sedang membungkus galau ini dalam sebuah kotak dengan pita yang manis

masa depan, lalu, dan kini

  : spiderman kita pernah bicarakan masa depan ketika aku menggandeng gadis kecil dan kamu dukung bayi lucu di pundak alkisah ada sebuah rumah mungil dengan halaman yang luas (sepertinya aku akan tinggal saja mengurusmu dan anak-anak sambil mengetik novelku dan berbisnis kecil-kecilan dengan sahabatku) di beranda kita akan nikmati secangkir kopi pada suatu sore yang mendung saling mengenang masa lalu ketika kamu tak kuasa menolakku kerena aku terus memaksa sedangkan kamu masih kurus, gondrong, garing tapi tetap saja menggemaskan hingga terbawa suasana masa kini saat aku sibuk berkhayal, reka-reka mimpi, dan berdoa agar asaku jadi sesuatu yang akan ada di sepanjang masa bogor, 2002-2003

- apakah kamu..-

Dalam mimpi, kamu menghampiri Memberi kesan meredam tanya Tentang wajah yang berbalut mendung Dan hening yang tertatih tatih Maka kuberanikan diri bertanya, Apakah kamu baik-baik saja? “aku baik-baik saja sari..” Sebaris sudah cukup bagiku untuk mengulang tenang Membebaskan duga dan melegakan khayal Baik-baiklah di sana Sempatkan menjawab pertanyaanku, Karena di sini aku percaya sebaik-baik perasaan adalah ketika aku mendengar sahutmu

sesuatu [ b-a-n-g-e-t]

Apa itu, suatu perasaan yang serupa kangen tapi tak terlalu pasti dekat dengan rindu tapi tak pula sesungguh rasa melarutkan semua kenangan dan membuang semua kata mengurung risau jadikan resah menggoda apa pula itu ketika aku memikirkan tentang kamu “sesuatu...” apapun namanya, harusnya rindukan saja kangeni saja serupa aku gagap memaknai rasa ini "jika dan hanya jika tersangkut namamu" (terinspirasi syahrini dan teori penarikan kesimpulan)

Galau

Aku tidak tau aku harus berbuat apa.  Tidak ada yang terlalu merisaukan daripada semua salah tingkah ini. aku harus bagaimana? Aku merindukan semua cerita tentang bintang dan purnama Hanya saja, akunya bagaimana? Masihkah langit terlalu kelam untuk merangkai awan? Semua galau ini memang milikku, Lalu kamunya ? Mungkin, aku harus berteman galau Sebelum aku melupakan semua galau