Posts

Showing posts with the label my PhD journey

featuring the next step of my PhD journey : revision

Hari ini, akhirnya saya selesai merevisi satu chapter dari disertasi yang dikomen sepenuh hati oleh supervisor tercinta yang super sibuk. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk merevisi satu chapter? Lima minggu. Saya tidak punya excuse untuk menjelaskan mengapa sebegitu lama. Itulah waktu yang saya butuhkan untuk bekerja setiap hari menulis ulang bab pertama dari disertasi saya itu. Setiap hari adalah peperangan yang sengit, antara duduk mengerjakan revisi, atau meninggalkan pekerjaan itu untuk dikerjakan kapan waktu. Minggu pertama, kedua, dan ketiga saya harus balik lagi ke rutinitas PhD researcher yang sudah enam bulan saya tinggalkan : membaca dan mencari jawaban. Minggu ke empat dan ke lima inilah, masa inkubasi telah selesai dan saya mulai menemukan kembali ritme menulis yang konstan. Jadi, jangan tanya kapan saya selesai. Let it flows, saya akan menjalani ini dengan sabar dan mindfulness. Saya yakin perjalanan setiap PhD student berbeda dan inilah jalan yang terbenta...

meeting dengan supervisor

Saya menunggu supervisor saya di dekat meja informasi di Bonn Hbf. Keretanya terlambat. Ketika beliau datang, saya tidak bisa mengenalinya. Punggung saya sudah sangat pegal menggendong laptop. Ransel saya letakkan di lantai. Saya menyender di dinding. Tangan memegang hape. Saya baru membaca pesannya yang mengatakan, lima menit lagi beliau tiba. Beliau memakai topi kupluk mendekat dan menyapa saya kami berjalan kaki menuju kantor supervisor kedua saya. Jangan harap kami berjalan beriringan, Beliau bergegas sambil menarik kopernya dan memegang botol juice Hujan dan angin kencang. Sesekali beliau melihat ke belakang, memastikan saya masih berjalan dan bertanya apakah saya baik-baik saja. Langkahnya begitu cepat dan saya terus berjuang dengan payung saya yang tidak kuat dihantam angin. Akhirnya saya menutup payung dengan susah payah. Untungnya jaket saya tahan air, hanya sepatu keds saya yang mulai kuyup. Kami sampai di geography institute tepat waktu Supervisor ketiga...

Auf wiedersehen (lagi)

Saya dan Hoai akhirnya makan malam di Vapiano, saya memesan pasta favorit saya dan Hoai memesan pasta yang ada mangga dan jamurnya. Lalu kami duduk bercerita sambil menyantap sepiring pasta yang enaaak banget-banget dan porsinya besar. Ini hari terakhir saya dan Hoai bertukar cerita. Senin dia bakal balik ke Vietnam dan saya, balik ke rumah. Dia menghadiahi saya kolase foto empat musim yang diambil dari balik jendela office kami di lantai 27. Pastinya, saya akan merindukan pemandangan itu, Rheinaue, taman luas terbentang cantik. Post tower menjulang tinggi, jembatan yang membelah sungai Rhein dan empat musim yang membuat pemandangan dibalik jendela itu seperti lukisan adanya. Sungguh minggu yang berat, mengucapkan selamat tinggal buat teman-teman seperjuangan di sini. Kami sudah berbagi terlalu banyak, tawa dan tangis dalam perjalanan meraih mimpi yang luar biasa susahnya. Merekalah teman berbagi hari yang selalu ada untuk sekedar makan siang atau berbagi secangkir kopi. Da...

Year end Party

Rintik menemani langkah menyusuri Rhein malam sudah lama jatuh sudah akhir tahun saja kita duduk di meja itu menikmati makan malam mencicipi dessert yang manis menggulai hidup kelap-kelip lampu hiasan nyala lilin temani tawa siapa aku mengapa aku ada di sini bersama mereka sepuluh tahun lagi sari, kamu adalah direktur pusat research si bos menatapku bersungguh-sungguh menyelipkan mimpi tentang masa depan sari, bersemangatlah selesaikan apa yang telah dimulai

Keep calm and finish your PhD!

Bulan ini dua orang sahabat saya berhasil menyelesaikan PhD mereka. Thomas, saya berpartisipasi membuat topi untuk Thomas selama dua hari. Joanna dan Hoai sangat bersemangat, idenya sangat orisinil. Saya mutar-mutar di Flohmarkt Rheiaue buat nyari lego dan sepeda. Malamnya kami menjemput Thomas di Hbf, membawa topi dan saya membeli buket bunga matahari untuknya. Lanjut mampir di rumah Thomas buat cerita. Kebahagiaan yang membuat dada saya penuh. Ah, kapan giliran saya ya? Lijar, mampir di Koeln to say good bye sama saya dan zuhra. Ngantarin lijar ngeliat tembok gembok cinta di jembatan dan makan ice cream sambil mandangin Koeln Dom. Duduk bertiga ketawa-ketawa. Lijar bakal balik ke Aceh minggu depan. Entah kenapa saya sedikit bersedih lijar pulang. Berkurang lagi teman seperjuangan di Jerman tapi saya sungguh bahagia lijar menyelesaikan PhDnya dengan sangat baik. Saya, masih tertatih-tatih, mengumpulkan kata, melawan semua rasa yang menekan,  seperti tulisan yang ka...

Supervisi

Supervisi saya berjalan dengan lancar jaya meski diawali dengan insiden dua kali membatalkan tiket kereta. Pertama, waktu jadwal konsultasi dipindahkan sehari sesudah waktu yang dijanjikan. Kedua, saya salah beli tiket, terbalik stuttgart-bonn bonn-stuttgart. Parah. Saya di host alis dan lijar di stuttgart. malam pertama saya malah diskusi sampai jam dua malam dengan alis yang kemungkinan besar akan memiliki supervisor sama dengan saya. Paginya, saya membaca buku koleksi alis yang keren-keren yang jauh lebih menarik dari report yang saya tulis. Tiba-tiba sudah siang saja, kami makan siang ayam dan capcay buatan alis sebelum diantar ke institut supervisor saya. Pas ketemu supervisor, tanpa mukadimah, saya langsung diajak makan siang. Tanpa bertanya saya sudah makan apa belum. Kadang, saya pikir, supervisor saya ini agak ke-indonesia-indonesian. Sambil makan saya mulai ngobrol dan lalu dibeliin kopi espresso. Itu pertama kali saya ngopi espresso, gelas kecil, dan biskuit satu poton...

ketika dia men-submit disertasinya

Siang ini, tiba-tiba si mas ganteng yang duduk di belakang saya itu, memanggil nama saya. Sari.. saya, masih tersesat dalam ribuan kata dalam bab findings saya, dan earphone yang memutar lagu entah apa, agak kaget karena dipanggil tiba-tiba. Aku baru saja men-submit disertasiku.. Ya ampun, si mas baru saja membuat suatu hal luar biasa, mengirimkan final draftnya ke examination office di London sana. Itu artinya, dia udah beres. udah hampir jadi PhD. dan hanya saya dan dia di ruangan ini. cuma saya, yang ada sama dia dalam detik-detik bersejarah itu. dan saya merasa sangat tersanjung. uh, rasanya pengen dipeluk saja kalau muhrim ha..ha.. dia kelihatan bahagia dan grogi, campur aduk, dan sangat deg-deg-an lalu kami larut dalam kegembiraan. Ibarat ibu, itu seperti baru saja melahirkan setelah tiga tahun mengandung. Ah senangnya, kapan giliran saya ya.. Tidak lama lagi sari.. kata si mas dalam baluran senyumnya yang paling manis saya pun tersenyum dan berjanj...

LDR

Tiba-tiba, ada emailnya di inbox saya. dan lalu emailnya lagi kali ini sudah ada jam dan tanggal. Jadi sekarang seperti inilah kami, bertemu dan berbicara lewat Skype. Tampangnya masih acak-acakan, dia baru pulang dari Jepang. Sempat ditunjukkannya mug bergambar lukisan tsunami yang dibawanya dari Jepang sana. Semuanya berbicara, bukan saya saja. Mbak Ayu bergabung dari atas bis yang membawanya dari Bogor ke Jakarta. Saya dan dua orang teman duduk berbicara dari ruangan kami di Bonn. Seperti itu, semua sudah berubah.. tapi sempat dikatakannya sekali lagi kepada saya, kamu tau kan, aku harus pindah, karena aku harus pindah dan kamu harus tau, kamu masih aku pikirkan, kamu masih ada dalam agendaku.. telpon atau kirimlah email untukku, jangan lupa letakkan high priority, karena ada 500 email yang aku terima setiap dua hari. ah, aku membayangkan emailku tersesat di antara lima ratus email di inboxnya dan dia masih bisa menemukannya sedangkan email darinya akan kesepia...

final year

Tahun terakhir phd ini sungguh berat. aku pura-pura tabah dan membisiki diriku, semua akan baik-baik saja sari. bertahanlah sedikit lagi. sedikit lagi, dalam semua ketidakpastian. teruslah berlari.. aku harus mengakui, khawatir mulai mengurung, aku tidak bisa merasa tenang atau elegan lagi. waktu mengejarku. dan dia menulis untukku, ketika kutumpahkan semua galauku "kerjakanlah sari, kerjakan.. kamu perempuan jenius dan kuat.." kali ini, dia mengatakannya dengan sungguh-sungguh..

buku yang datang pada saat yang tepat

Salah satu teman phd saya, minggu lalu bercerita, bahwa, temannya menyarankan dia untuk membeli buku yang judulnya : completing your qualitative dissertation, a road map from beginning to end. Kata teman saya, temannya itu berhasil menyelesaikan phd dengan berpedoman pada buku itu. Buku itu seperti buku self help dan motivation buat phd student yang tersesat seperti kami. saya lalu memesannya lewat amazone, dua hari kemudian bukunya udah ada di kotak pos saya. saya membaca buku itu pelan-pelan, di rumah, di perjalanan weekend dan hari ini meletakkannya di atas meja, mencoba pelan-pelan mengikuti petunjuk yang disajikan dengan sangat simpel. ah, kenapa baru sekarang saya ketemu buku ini? kenapa gak sejak dulu. meski sebenarnya saya udah on track dan buku ini lalu datang di saat yang tepat, membantu saya menulis findings dan analisis chapter. menurut buku ini masih banyak pekerjaan saya, semoga bisa selesai tepat waktu.

my research exclusion

Sore ini, saya ditinggal sendirian di opis. Teman-teman sudah pada pulang duluan. Hari-hari musim panas seperti ini, sungguh banyak godaan untuk bertahan di kantor sementara cuaca di luar bagus sekali. Hanya saja, saya ingin sebentar menikmati office ini seorang diri, jarang-jarang saya bisa sendirian di ruangan ini. Hari ini, akhirnya perpanjangan beasiswa saya keluar. Alhamdulillah, setahun lagi untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Harus lebih bersemangat. Supervisor saya mengucapkan selamat dan mengingatkan saya harus membuat meeting yang panjang dengan beliau sebelum balik buat fieldwork yang kedua. Begitu banyak yang harus dilakukan semoga semua berjalan lancar dan sesuai rencana. seperti sebuah kata yang saya dapat hari ini dari vocabulary.com, exclusion : if you love someone to the exclusion of all others, he or she is the only one for you. Mungkin ini saatnya membuat research saya sebuah exclusion, hahaha..

sore di halte ketika dia menahan pintu tram itu untuk saya

Bonn panas sekali kemarin. Saya duduk gelisah di halte tram, menunggu teman saya dari Koeln, berharap keretanya tidak terlambat sampai Bonn. Kami janjian pergi berbuka bareng dengan teman-teman pengajian Bonn. Tiba-tiba sesuatu terlihat sangat menarik, seorang ibu, dengan segelas smoothie berwarna pink lewat dihadapan saya. Pukul delapan sore, setelah belasan jam berpuasa, dan gerahnya hari, membuat saya tertegun. Ah, pasti segar sekali. Sungguh membuat saya ingin sekali merasakan smoothie itu seteguk dua teguk haha.. Lamunan saya buyar, seseorang muncul menyuguhkan senyum dan smoothie pink itu jadi tidak menarik sama sekali. dan lalu kami bicara tentang gerahnya Bonn, rencana lebaran saya yang jauh dari Bonn (dia masih ingat setahun lalu saya juga tidak berlebaran di Bonn), tentang researchnya (yang cuma dijawab dengan helaan nafas panjang dan dahi berkerut), hingga tiba-tiba tram sudah berhenti di halte, dan si mas memberitahukan saya, dia sudah melihat teman saya berlari-lari ...

menulis serius

Phd journey saya telah memasuki babak baru. Babak menulis. Saya memberanikan diri mulai menuliskan empirical chapter. Keberanian ini sangat dipengaruhi oleh dorongan dan senyuman paling manis dari teman seruangan saya yang tak henti-hentinya. Setiap hari, dia menyediakan dirinya untuk diajak berdiskusi, dengan ide-ide paling mengerikan yang tidak pernah saya pikirkan. Untuk Phd tahun kedua, yang fieldworknya baru setengah jalan, dan interpretasi datanya masih preliminary, menulis adalah hal yang membutuhkan keberanian. Tapi si mas dengan yakinnya, menyuruh saya menulis, karena menurutnya jika saya menulis saya akan lebih percaya diri dan memiliki sesuatu di tangan saya, bukan di kepala atau di angan. dia bahkan memberikan saya, chapter empiricalnya yang sudah beres, tiga chapter yang diselesaikan dalam satu bulan. Saya langsung ngeprint chapter si mas dan membacanya dengan takjub. Makan apa sih dia, kok bisa pinter banget banget. Joanna juga menyarankan saya menuliskan apa ya...

Ketika data saya hilang

Ketika kemarin pagi saya membuka file analis data yang saya kerjakan menggunakan software untuk pengolahan data qualitative, saya menemukan data saya amburadul. File script interview saya di dua folder sudah kosong dan yang paling mengerikan ratusan coding untuk 40 interview hilang tak berbekas. Saya bekerja hampir dua bulan dengan software itu. Mulai dari belajar menggunakan hingga mengcoding dan melakukan analisis awal. Setelah itu, saya menginterpretasi dan menerjemahkan hasil awal tersebut dalam bahasa Indonesia. Teledornya saya, saya tidak punya back up data untuk file tersebut, karena tidak terpikir akan ada incident error seperti ini. Alasannya karena biasanya yang hilang adalah file asli atau file hasil, bukannya file pekerjaan. Kejadian ini jadi pelajaran berharga buat saya. Pekerjaan apapun harus ada back upnya. Kebetulan saya bekerja di laptop baru dengan OS win8 yang sama sekali tidak ramah untuk mencari data yang hilang. Teman-teman saya berusaha membantu mencari...

Wilkommen June

Sudah bulan Juni. Juni setahun lalu saya suka sekali dengan musikalisasi puisi "Hujan bulan Juni" Sapardi. Meski Bonn belum hujan bulan Juni ini, tapi mungkin akan ada beberapa hari menikmati hujan sambil menikmati musikalisasi puisi ini. Pekerjaan saya, maju pelan-pelan. Teman-teman seruangan bertanya dengan baik hatinya, bagaimana progress pekerjaan saya. Mungkin karena kami teman seperjuangan, jadi mereka yang paling berempati dengan perjuangan saya dan research ini. Meski kadang saya masih saja merasa kesepian dan seorang diri memikirkan yang terbaik, apa yang harus dilakukan dan semua rencana untuk bisa menyelesaikan phd ini dalam jangka waktu yang telah ditargetkan. Meski sesungguhnya saya sebenarnya menikmati setiap proses, langkah kecil, dan pekerjaan yang saya selesaikan setiap harinya. mungkin nanti saya akan merindukan hari-hari yang seperti ini. mungkin..

Almost summer in Bonn

Cuaca perlahan mulai hangat. Kering dan matahari mulai suka menampakkan diri. Tiba-tiba semua orang bergembira ria, sedangkan saya sendiri, diam-diam mulai merindukan cuaca awal musim semi yang sejuk dan basah. Mungkin karena di Indonesia, saya sudah selalu kegerahan dan berkeringat, jadi saya tidak begitu tertarik dengan aktivitas outdoor yang mengijinkan sinar matahari menyentuh wajah. Hanya saja, saya tidak menolak, ketika kemarin kedua teman seruangan saya, mengajak kami lari sebentar dari depan komputer, untuk menikmati ice cream di tepian sungai Rhein. Duduk malas menghadap sungai sambil menjilat-jilat ice cream yang terus mencair selama setengah jam saja. Tahun kedua phd saya, banyak yang berubah. Setidaknya saya harus tiap hari ke kantor dan mengerjakan analisis data saya. Tidak seperti tahun pertama yang berputar-putar dengan teori. Teman-teman seruangan dua orang akan segera lulus dan satu orang mentor saya akan segera resign. Mungkin ini saatnya untuk lebih mand...

Dear bang Leno, please be mine

Akhirnya saya jadi beli laptop baru. Proses beli laptop ini menghabiskan banyak energi juga, dalam rangka memikirkan merk dan spesifikasi apa yang cocok buat saya. Laptop lama saja, si Jazzy, sudah renta dan saya agak khawatir untuk menyimpan dan mengolah data dengan suhu tubuhnya yang hampir selalu panas tinggi. Seperti biasa, kalau berhubungan dengan komputer, saya selalu konsul sama zuhra. Konsul itu kata lain buat ngerepotin, hehe. Alhamdulillah dek zuhra sabar menjawab semua pertanyaan dan memberikan saran-saran berguna. Awalnya pengen beli laptop yang ada gambar apelnya, tapi kata zuhra kalau beli di Kuala Lumpur, bisa lebih murah lima juta. Sakit hati dengarnya, padahal adek saya baru pulang dari internship di Kuala Lumpur trus pulangnya juga lewat banda aceh dulu. Jadinya, saya membeli laptop merk lain, semoga bisa bertahan sampai beres sekolah dengan aman terkendali. Akhirnya pilihan jatuh ke laptop lenovo ideapad u430p, saya beli langsung dari websitenya. Setelah membandi...

refleksi : my PhD Journey

Image
Akhirnya hari ini terlalui juga dengan baik. Sebulan yang lalu, saya ingin men-skip hari ini dari kelender karena hari ini saya harus memberikan presentasi di kolokium tentang hasil fieldwork saya lima bulan di Banda Aceh. Alhamdulillah, semua berjalan dengan baik. Meski bahasa inggris saya belepotan dan tangan saya masih saja dingin ketika berbicara di depan umum. Salah satu pelajaran yang saya hayati selama menjadi phd student, untuk selalu berlapang dada menerima komen dan feedback. Malah saya harus rajin meminta feedback pekerjaan saya. Untuk presentasi dua puluh menit tadi, saya melalui dua kali proses review. Pertama saya menyiapkan slides saya, lalu saya mengirimkannya ke Neysa, Neysa baca dan memberikan komen, lalu saya perbaiki, lalu dikomen lagi, saya perbaiki lagi dan akhirnya jadi. Alhamdulillah, ada Neysa yang berbaik hati membantu untuk melakukan proof reading, memberikan banyak pertanyaan yang membantu saya mematangkan ide, dan saran untuk membuat pekerjaan saya lebi...

apa yang saya pikirkan tentang apa yang terjadi

Image
Sejak balik ke Bonn, sudah sebulan, tidak banyak yang saya kerjakan. Saya seperti mengalami kembali cultural shock, kembali sendiri dan berjuang untuk phd saya yang tak seberapa ini. Hal ini semakin diperparah dengan todongan memberikan presentasi hasil fieldwork saya di Aceh selama lima bulan. Meski supervisor saya datang dan melihat sendiri, tapi beliau ingin lebih banyak orang yang memberikan masukan untuk mengolah data kualitatif saya. Sebuah presentasi, bukanlah sekedar presentasi. Presentasi membutuhkan inspirasi, inspirasi adalah kemasan. Ibaratnya saya harus menjual hasil pekerjaan saya, jadi harus kerenlah presentasi saya itu. Harusnya, tidak usah terlalu  dipikirkan, kerjakan saja. Duduk, buka powerpoint dan mulai dari slide satu, dua, tiga hingga seterusnya. sesederhana itu tapi tidak pernah sesederhana itu. Entah apa yang saya tunggu, hingga hitungan hari semakin dekat. Rabu depan, dan saya masih di titik nol. Namun, bukannya proses kreatif membutukan fase inkubasi,...

Mau tahu aja apa mau tahu bangeeet?

Siang tadi, teman saya Math,  masuk ke ruangan kami. Dia mengantarkan undangan pernikahannya untuk kami. Acaranya masih bulan Juni, tapi sudah diantarkan tiga bulan sebelumnya. Tujuannya mungkin supaya bisa dimasukkan ke agenda secepatnya sehingga lebih besar kesempatan untuk para undangan hadir di acara tersebut. Maka, makan siang Jumat kami, diisi dengan topik tradisi pernikahan. Mereka banyak bertanya soal tradisi pernikahan di Indonesia dan juga sambil berbagi tentang tradisi pernikahan di Jerman dan di Inggris. Soal nikah-menikah ini sungguh menarik, kami membahas banyak hal. Ada hal yang sama, biaya pernikahan dimanapun sangat mahal sehingga benar-benar harus direncanakan secara matang. Sedangkan bedanya, di Indonesia kita mengundang banyak orang, saudara, handai taulan, temannya tante, bosnya si om, tetangganya sepupu, siapapun boleh datang. Kalau di Jerman, mereka hanya mengundang teman dekat saja dalam jumlah terbatas. Bagian p...