Posts

Genug

Aku tidak tau berapa banyak kata yang aku miliki hingga aku bisa berbicara, mengatakan isi hati, atau sekedar berkomentar Rasanya ingin aku menghitung, berapa sudah kata yang ada di kepala ketika aku bisa menuliskan padamu beberapa kalimat atau berlembar surat Sepertinya aku memiliki kata yang tak terhingga karena aku mengerti makna setiap kata yang kudengar Sebenarnya berapa jumlahnya kata yang aku pahami sehingga tak sulit bagiku membuat kalimat untuk gambarkan rasaku Dan beberapa bait puisi yang terngiang  hanya dengan memikirkan namamu Lalu saat ini, entah berapa kata yang aku miliki berlalunya waktu sulit bagiku memahami susunan huruf Semakin rumit bertemu rangkaian kata terbentur ketika menggetarkan pita suara terdiam lama, sebelum bisa berkata-kata, Hanya saja, untuk sekedar menulis Satu kalimat dalam bahasa itu, tentang perasaanku padamu bisa, tak perlu menghafalkan semilyar kata Ich liebe dich.. Cukuplah sudah.

menulis surat itu ternyata ..

Sejak SD sampai SMU saya memiliki banyak sahabat pena. Bahkan hingga kuliah masih menulis surat untuk sahabat-sahabat terbaik saya dengan tulisan tangan, berlembar-lembar, seperti cerita bersambung. Amplop surat selalu tebal dan saya selalu menjadi langganan pos keliling yang mangkal di kampus. Ketika surat digeser dengan email, saya masih menulis dengan hebohnya. Untuk sahabat dan orang-orang spesial dengan jumlah kata beribu-ribu. Lalu sekarang, dalam Testbeschereibung ituuuh, atau writing test dalam bahasa Jerman yang hanya minta 40 kata menulis sebuah surat atau email, saya terduduk lesu. Kertas jawaban penuh coretan dan tip-ex karena dalam ujian tidak boleh menggunakan pensil, sedangkan saya tak pernah berhasil menulis satu kalimat tanpa kesalahan. Satu kalimat saja membutuhkan pemikiran yang panjang. Galau dalam memahami maksud dan tujuan surat, yang tertulis dalam soal ujian. Ah, sungguh sesuatu. Banyak yang harus dipikirkan dalam menulis surat ternyata. Pertam...

balada pejalan kaki

Salah satu mata kuliah favorit saya waktu kuliah master adalah Urban Environmental Management. Saya terkagum-kagum dengan proyek-proyek pengelolaan lingkungan perkotaan yang sangat inspiratif. Contoh-contoh yang diberikan profesor saya diambil dari kisah-kisah sukses pengelolaan wilayah kota yang ada di seluruh dunia. Beberapa memang dilakukan di Adelaide dan kami kunjungi dalam kunjungan lapangan yang mobilnya disupiri sendiri oleh si Bapak. Sebenarnya saya teringat kembali ke mata kuliah itu karena salah satu pokok bahasan tentang public transportation untuk daerah perkotaan, termasuk penyediaan ruang bagi pejalan kaki. Tadi pagi saya melihat sebuah video tentang seorang ibu yang memarahi pengendara motor yang mengambil hak pejalan kaki yang berkendara di atas trotoar. Trotoar yang lebarnya tak seberapa itu penuh dengan berbagai macam barang yang mengganggu sekali. Mulai dari dagangan, warga yang duduk mejeng-mejeng, pot bunga segede gaban dengan pohon penuh duri, kontur tr...

tentang aku dalam pikirmu

Maaf, jika hidupku tak terlalu menyedihkan seperti pikirmu. Masih ada pelangi dan hujan yang turun pagi-pagi. Maaf, jika aku tak bisa menyenangkan egomu karena mengatakan aku bahagia saat ini. Bukan hidupmu saja yang berkilauan, hidupku juga penuh warna-warna pastel. Harapmu aku akan selalu terpuruk, mengeluh, dan tersudut. Tentu tidak, mentari masih berbagi terang dan sungguh tak ada lagi cerita kemarin. Mungkin tak harusnya dirimu bertanya dan ingin tahu.  Mungkin dirimu yang tak pernah lepas dari bayang masa lalu. Mungkin. Ya, seperti ini saja, lupakan aku, dan jangan pernah berpaling lagi padaku. Meski kita masih bisa berbicara tentang hari ini, aku pastikan esokku tak sekelam imajimu. 

ketika foto mengingatkan ...

Kemarin, sahabat saya sangat berbaik hati mengumpulkan kembali dan memilih foto-foto terbaik ketika kami menari saman di Adelaide dulu. Bertahun kemudian, foto-foto itu masih saja menyenangkan untuk dipandang-pandang dan dikomentari. Seakan waktu berjalan begitu cepat, yang dulu masih muda belia kini sudah mulai menjadi matang (kata lain untuk semakin dewasa, hehe) Sore ini, saya mengumpulkan kembali foto-foto kegiatan saya di SGDC. Sistem penyimpanan file saya yang amburadul membuat saya hanya menemukan beberapa saja koleksi foto kegiatan-kegiatan kami yang super heboh. Ah, saya jadi kangen masa-masa bahagia itu, bahagia entah galau? Semua foto itu seakan menceritakan kembali apa yang sudah terlalui. Buat saya, beberapa ingatan kadang terselip ke belakang, bukannya hilang, hanya nyempil. Foto-foto itu berhasil memanggil lagi kenangan yang tersempil tersebut. Jika foto-foto itu diperhatikan, perubahan jelas terlihat, dari bentuk dan lebar postur hingga warna penampakan. Hanya...

Teman Temin

Sejak punya smartphone yang satu itu,  saya bisa dengan mudah bertemu teman-teman lama melalui grup yang mengundang kita karena ada pertalian sejarah.  Kemarin, tiba-tiba saya diundang oleh grup teman-teman SMP. Meski saya dimana dan teman-teman yang lain juga dimana, bisa berkumpul lagi dan ngobrol lewat fasilitas messenger yang ada di smartphone tersebut. Begitu cepat waktu berlalu, teman-teman yang dulunya masih culun sana culun sini kini tidak lagi.  Silaturrahmi yang terputus sekian lama bisa tersambung lagi. Temannya teman saya yang dulu waktu SMP, jangankan buat kenalan, buat negur aja tak pernah, sekarang jadi teman di dunia yang tak nyata itu. Dodolnya, beberapa yang saya accept berteman, saya tidak tau siapa namanya, yang mana orangnya, kelas berapa dulunya. Bukankanh waktu bisa mengubah seseorang? Waktu di Sabang saya pernah ketemu dengan teman anggota parte (partai/geng/kelompok) teman sekelas saya dulu waktu SMP. Mukanya sangat familiar, mak...

Jakarta dan Ojek

Sejak di Jakarta, ojek menjadi pilihan yang paling sering saya ambil untuk bepergian sendiri. Pertama, waktu berkendara biasanya singkat. Tukang ojek tau jalan-jalan tikus yang bisa memotong jarak. Macet juga tidak jadi masalah, sepertinya semua tukang ojek mengerti cara membawa motor dalam kemacetan. Kedua, masalah harga yang bisa dinegosiasikan sejak awal. Pandai-pandai menawar dan mengukur jauh dekat tempat tujuan. Memang lebih mahal jika dibandingkan dengan kenderaan umum lainnya, seperti commuterline atau bis. Malah kadang lebih mahal dari ongkos taksi. Cuma kelebihannya dari awal kita sudah tau berapa yang harus kita bayar untuk jasa ojek tersebut. Kekurangannya, yang paling membuat saya mikir-mikir dulu sebelum naik ojek adalah keamanan dan keselamatan berkendara. Pengalaman saya selama ini : beberapa tukang ojek ngebut, melewati lampu merah, jalan di trotoar, dan yang paling horor, melewati palang kereta api yang mau lewat. Benar-benar uji nyali dan keberanian. ...