Posts

stay foolish :)

Selama mengikuti kursus ini, saya kehilangan jati diri. Saya yang sekarang ini, bukanlah siapa-siapa. Rasanya seperti kembali menjadi anak SMP. Labil, malas, bandel, dan bodoh. Hanya satu yang tetap sama, semangat belajar saya tak pernah padam. Guru saya itu, selalu membuat saya merasa serba kekurangan lalu membuat saya merasa malu  karena saya belum bisa. Semua ego saya, semua kualifikasi saya, hilang berkeping-keping. I am nothing di dalam ruang kelas itu. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari seorang saya di kelas itu. Kesabarannya hilang mendengar saya terbata-bata menjawab soal PR. Keningnya berkerut membaca karangan saya yang amburadul. Telinganya menjerit mendengar pelafalan saya yang salah melulu. Hahaha.. Namun, saya bersyukur, hampir sembilan bulan ini saya menjadi pembelajar lagi. Belajar bersungguh-sungguh, mendapatkan pengalaman belajar yang sungguh super. Belajar satu bahasa lagi saat tak muda lagi, membuktikan tak ada kata terlambat untuk mempelajari sesuatu...

satu kota lagi

Sudah malam ketika saya berbincang dengan ‘senior’ saya yang duluan menuntut ilmu di kota itu. Ragu sedikit ketika membuka percakapan. Awalnya saya tertanya  tentang barang bawaan lalu merembet tentang tempat tinggal. Berbagi beberapa kekhawatiran tentang satu perjalanan lagi. Saya takut merasa sendiri.  Kota yang asing tanpa teman, benar-benar sendiri. Tak terbayangkan. Selama sejarah perantauan saya, teman saya selalu banyak, khususnya teman Indonesia, lebih khususnya teman Aceh. Teman Aceh ini sungguh bisa mengobati galau-galaunya homesick. Hanya melihat atau duduk bersama teman-teman dari Aceh sudah sangat membantu. Mendengar aksen dan bahasa yang karib itu, atau sekedar gaya bercanda yang terbiasa, terbukti membuat saya lebih baik. Bonusnya sekali-kali bisa mencecap masakan khas, bumbu yang membuat terkenang tentang sebuah rumah dan keluarga. Maka, nasehat untuk ‘gaul’ dan membaur, selalu saya tepikan. Saya ya tetap saya, tanpa bauran dan celupan. Saya h...

makan siang dimana kita?

Siang, Jakarta habis diguyur hujan. Langit masih mendung ketika saya dan dua teman keluar dari perpustakaan dalam keadaan kelaparan.  Makan siang dimana?  Membiarkan langkah membimbing ketika tiba-tiba berbalik arah menuju Sarinah. Bosan saja dengan menu kantin atau sepiring nasi padang yang terbiasa. Berjalanlah kami menyusuri sisi Jakarta yang rimbun, deretan rumah tua, dan trotoar licin sehabis hujan.   Berbicara tentang apa saja, mengusir lapar, menikmati siang. Akhirnya kami makan siang seadanya di Jalan Sabang. Saya yang ngotot pengen menyusuri jalan itu. Mungkin sedikit rindu pada siang di pulau yang terik, entahlah.. Setelah kenyang, membiarkan makanan turun perlahan,  berjalan pulang menyusuri kebun sirih dan Jalan Jaksa. Mengintip-intip sela-sela Jakarta yang tak terlalu rapuh. Sedikit mellow, menikmati satu siang dalam langkah-langkah pendek mengukur jalan-jalan di Jakarta.

Pameran Lukisan Nduut

Kemaren dulu, saya posting poster pamerannya si ndut di wall facebook. Ngetag sana-sini tanpa permisi, sasarannya teman-teman dekat saya, yang kenal ndut. Selebihnya, mungkin ini sesuatu yang harus disyukuri, satu mimpi yang jadi nyata. “Kok bisa sampai pameran..” Ceritanya panjang lebar. Bukan sekedar pengen pamer pastinya, lebih kepada berbagi ingatannya tentang  tanah bernama “Aceh” dengan semua adat istiadat dan tingkah polah yang terekam dalam memorinya sejak kecil dulu. Sejak dulu ndut udah tertarik dengan segala detil-detil yang meng-Aceh. Ingatan ini semakin menguat ketika dia jauh dari tanah kelahiran. Ingatan-ingatan pendek tentang suasana pasar, warung kopi, lambaian selendang, atau pesta kawinan terkuak kembali. Berharap apa yang teringat akan selalu ada dan terlestarikan, meski hanya sesimpel senyum nyak-nyak penjual sayur setiap pagi di pasar Peunayong. Ruang pamer ndut yang pertama adalah dinding rumah saya. Kok bisa ya, orang tua saya berinisiatif ...

Green Canyon suatu akhir pekan

Rencana Jalan-Jalan ke Pangandaran itu Cuma selintas dua lintas dilontarkan. Sampai hari keberangkatan, saya tak pernah berpikir saya akan pergi ke Pangandaran. Perjalanan santai, modalnya cuma peta yang didownload dari google maps. Beberapa kali nyasar, Alhamdulillah cowok-cowok di mobil rental itu sangat tidak gengsi buat bertanya tentang arah. Namun, nyasar memang tak terhindarkan. Mungkin di situ seninya, nyasar, jadi ada ceritanya. Akhirnya sampai juga di Green Canyon. Masih gak ngerti apa yang mau dilakukan ketika sudah berhelm dan berjaket pelampung. Rafting yang tanpa perahu itu sungguh menguras keberanian. Uji nyali saya yang selama ini hanya saya gunakan untuk menyeberang jalan setiap pagi, kali ini harus diobral untuk mengarungi sungai hijau nan indah. Kami harus meloncat ke sungai yang berarus cukup deras. Memanjat batu-batu, dengan rasa percaya diri yang sangat, mengangkat tubuh yang cukup berat, dalam langkah pasti. Memilih pijakan dan percaya kepada guide dan t...

makan yuuk !

Sebelum berangkat merantau lagi, halah bahasanya, ibu saya berpesan saya jangan jajan sembarangan. Kalau ‘gak sempat’ / ‘malas’ masak, kalau mau beli makan harus lihat-lihat dulu tempatnya. Ibu saya berpendapat makanan ‘rumah’ jauh lebih sehat dibandingkan makanan beli. Sekali-kali saya masih makan ‘pecel ayam’ yang warna minyaknya sudah gak jelas lagi. Kadang saya berharap ada keajaiban, ketika ngintip ke wajannya si Bapak, warna minyaknya seperti warna iklan minyak goreng di TV, tak akan pernahlah. Kadang kalau sudah sangat-sangat bosan membeli makanan, baru saya turun ke dapur. Meski Cuma telur dadar, ikan sarden, atau kalau pengen udang, memang lebih nikmat. Meski excuse saya, buat diri saya, bahwa selagi masih di sini, puas-puasin sarapan bubur ayam, dinner pecal ayam, dan makan siang di Warung Padang. Satu lagi yang paling parah, si mas tukang bubur langganan saya, ember cuci piringnya cuma dua. Airnya gak diganti-ganti habis cuci mangkok dan sendok segambreng-gambr...

auf wiedersehen Uci

Ketika sudah duduk di Damri menuju Gambirpun, air mata saya masih turun pelan-pelan.  Lambaian tangan Uci di depan Gate, sesaat sebelum masuk, makin membuat air mata saya membanjir. Empat tahun tidak berjumpa, seakan tak berjarak. Perantara email dan skype menuntaskan semua cerita dan pembicaraan. Jadi kenapa saya mellow sangat ketika berjumpa dengan Uci? Mungkin saya bersedih  karena Uci lebih percaya dengan mimpi-mimpi saya yang absurd ketimbang saya yang punya mimpi. Sebaliknya saya juga percaya mimpi-mimpi gilanya yang Insya Allah akan jadi nyata. Sibuk menerka-nerka, dimana nanti dan kapan kami akan bertemu lagi. Apakah di belahan benua sana, atau di pulau kecil itu, entahlah. Biarlah keyakinan yang mengantar perjumpaaan itu, seperti keyakinan uci bahwa kami akan bertemu lagi sebelum saya merentang jarak lebih jauh darinya. Menerawang masa depan, dalam balutan doa, tetaplah menjadi kuat, tetaplah menjadi tegar, dan mari berjalan bersama menjemput imp...