Posts

Nulis untuk si Mas

“Malam nduk :)” “Ada cerita apa :)” Ah, segitunya, masih saja menyapaku, dengan cara yang paling tak terpikirkan. Hingga aku, duduk kembali, bercerita dengannya tentang semua hariku.. Masihkah ada waktu mendengarkan semua keluh kesahku, seperti dulu lalu,  dulu lalu yang sudah lama sekali ? Masihkah mau memberikan perhatian, memikirkan semua masalahku dan memberikan nasehat yang sungguh menyejukkan hati, seperti dulu kita, dulu yang terpisah ratusan hari dan kisah? Percakapan panjang via kabel telepon di kosan Masih singgah di ruang tamu “Arini” sepulang dari berkelana mencari hidup “Nulis ya..” “Jangan lupa minum obat dan vitamin ya..” Tetap saja bisa meluruhkan semua keras kepalaku dan membuatku berjanji Segitu patuhnya, hingga mau-maunya menunggu bis dalam suhu minus, demi membeli sekotak Jus yang menjanjikan vitamin C tingkat tinggi.. Mungkin warna yang ditorehkannya dalam hidupku, sedemikian terang, dan hingga kini belum pudar jug...

episode makan siang setelah demam dua hari

Setting : makan siang romantis berdua, skyscraper, lantai 29. Pemandangan sungai Rhein. Cowoknya : ganteng, senyam senyum mulu, sayang banget sama pacarnya sampai rela terbang ke negara yang sedang rusuh demi menemui sang pacar tercintaaah Ceweknya : baru sembuh dari demam dua hari, kelaparan, dan agak depresi mikirin Kaution rumah barunya yang belum jelas. Percakapan basa-basi tingkat tinggi dimulai..  “Jadi kapan kamu berangkat ke ..?” “Sabtu ini. Aku tu udah shopping banyak banget buat pacarku. Dia pesan ini itu, yang gak ada di sana. Minta dibeliin coklat, roti yang enak, pokoknya daftarnya panjang deh..” “Ha..ha.. segitunya ya..” “Iya, aku tu gak bisa bayangin deh pas ketemu dia, aku gak bisa cium dia nanti di Bandara. Cuma salaman, trus nanya apakabar..?” “Iya memang gak bisa...” “Aku harus menghormati adat kebiasaan masyarakat di sana..” “Mending tu, di kampungku, malam di atas jam 9, bisa ditangkap polisi kalau berduan..” “Oo, j...

schnee :)

Berjalan di tengah hujan salju itu, ternyata pengalaman yang mengesankan. Alhamdulillah, alat perang saya lengkap menyambut butiran putih yang turun penuh semangat hari ini. Semalam saya memutuskan untuk membeli sepatu winter lagi, berhubung yang lama, terbukti tidak ampuh menjaga kaki saya tetap kering. Masalah beli membeli ini memang tricky, hal ini karena saya tidak punya pengalaman bermusim dingin dengan salju. Akhirnya saya membeli dua kali,  jaket dan sepatu winter. Supaya nyaman dan tetap bisa beraktifitas. Jaket 5000 mm dan sepatu tahan air merupakan sponsor utama yang menyukseskan acara nunggu bis di tengah salju malam ini. Juga didukung penuh hati yang riang gembira. Meeting dengan dua supervisor berjalan lancar, meski badai salju, dan matahari sudah tenggelam, mereka tetap datang buat saya.  Saya senang sekali, mengingat kesibukan beliau-beliau yang gila-gilaan. Mau meeting bertiga saja, susahnya bukan main. Email bolak-balik buat nyari waktu yang pas. Alhamdu...

re-thinking

-rethinking about you-   Bahkan aku tak punya alasan untuk merasakan Sebuah perasaan atas resahnya hariku tersentuh hadirmu   Nyaris aku memilih untuk menyerah hingga akhirnya Aku pikir mungkin ada baiknya aku mengerti Semua keputusan hati akan kembali pada hati dan kali ini aku harus harus dengarkan sungguh bisik nurani yang terdengar semakin lirih   Simpan dulu galau masih ada yang akan terbias dalam esok Hingga akhirnya apa yang harusnya ada akan nyata menangkan mimpi di atas segalanya.

Seperti Hujan

Seperti Hujan; Pikirku, aku merindukanmu, Maka setiap hari kuhabiskan untuk merindukanmu   Pikirku, aku mengingat smua tentangmu Maka setiap detik penantian adalah kebahagiaan   Lalu hari ini, Aku memandang satu per satu Ketika hujan turun pelan-pelan Membawa titipan kenangan untukku Terbungkus rapi dalam balutan awan kelabu   Tak kan pernah sama satu hujan Pada satu hari Dan pada satu kisah Takkan pernah sama  

Jika saja

Jika kukatakan Engkaulah poros bumiku, mengertikah engkau?   Jika kubisikkan Pada matamu kupantulkan hidupku, apakah kamu merasakannya?   Jika kuyakinkan Senyummu adalah kelimpahan hatiku, akankah itu ada maknanya?   Langkah kecilmu adalah tapakan besar mimpiku Tak ada yang terlewat kupersembahkan untukmu Celotehmu, tawamu,   bahkan tangismu Nadiku berdenyut seirama…   Ah, cintaku tak berkesudahan untukmu

Blink

Sengaja membongkar-bongkar flash disk mencari puisi norak ini . Ah, waktu memang sekedip dua kedip saja, sudah berapa lama waktu itu berlalu? Lalu ketika minggu ini, si abang kedip ternyata sedang berada di kota yang hanya berjarak 4 jam perjalanan kereta dari Bonn sini, maka seperti kedipan mata. Dunia yang kecil, bersinggungan dititik yang sama, tapi tak pernah berjalan bersama.. So, abang Blinking, meski kita tak bisa bertemu, menyadari dirimu, dalam zona waktu yang sama saja, sudah cukup buat kita merayakan masa lalu dengan membaca puisi ini :) b-l-i-n-k [teruntuk abang kedipku] Sapa aku karena aku tak jemu tunggu satu atau dua kata Ajak aku terlebih-lebih bila kamu tak ingin sendirian (sepertinya aku tak perduli kamu hanya ingin tanpa satu tujuan yang selalu ingin aku kamu milikinya)   Lalu kalau saat ini aku   menulis beberapa kata lagi Setidaknya ada kesan hadirnya kamu dalam hariku   Titik-titik senyummu ...