Ternyata butuh waktu untuk mengenal. Bahkan untuk berkenalan dengan sebuah kota, entah berapa lama akan jadi karib. Kota ini dalam dua hari yang aku kenal, hanya sebatas jendela kamar dan sepotong balkon. Gerak-gerik tetangga di seberang rumah, kadang terekam pelan. Kadang jendela itu ditutup tirai saja, maka kota ini hanya sebuah kamar yang karib dengan laptop dan selimut. Beberapa hari kemudian, berkenalan dengan jaringan kereta yang sungguh rumit. Berjalan menuju stasiun kereta, membeli tiket di mesin, menikmati laju dan berganti kereta. Duduk manis menikmati pemandangan dari balik kaca, mencoba mengingat semua detil agar tak tersesat nantinya. Butuh waktu juga untuk memberanikan diri memenuhi undangan berbuka di kota sebelah. Berteman dingin ketika salah turun stasiun dan kembali menikmati perkenalan dengan pusat kota, ketika harus berjalan pulang karena sudah lewat tengah malam. Pelan-pelan mengingat arah dan belokan, membuka mata melihat hal-hal menarik dan menikmati ha...