Posts

hujan pagi ini di Bonn

Bonn semalaman, sepagian dan sesiangan hujan. Dari kemarin malahan, meski ada sedikit bonus, kemarin sore, selengkung pelangi indah, menyembul tak perduli dari ujung jendela kantor. Saya baru selesai mendiskusikan presentasi saya dengan Neysa, diskusi dalam bahasa Indonesia. Saya sungguh beruntung, ada yang bisa diajak diskusi dengan bahasa ibu saya dan bisa memberikan saran-saran bijaksana yang menenangkan hati. Hanya saja, tetap harus dipikirin mau diapain semua ide dan masukan-masukan. Balik ke meja saya, semua saran dari Neysa, kertas yang dicoret-coret dan semua ide berebutan untuk keluar, hanya saja, saya terlalu penuh untuk bisa mengeluarkan satu per satu. Jadinya saya cuma bengong, berselancar ke sana kemari, sambil mendengarkan musik. Lagu cinta yang dipilih untuk hari berhujan. Menghitung hari sebelum pulang hanya saja sebelumnya masih banyak ini itu yang harus dilalui. semoga terlalui dengan baik.

My Ndut

Pagi ini, saya bermimpi bertemu dengan adek bungsu saya yang imut-imut. Dia memakai seragam SD dan sedang memasukkan sesuatu ke dalam tas sekolahnya dengan serius. Dasi merahnya terpasang miring, dan ketika saya menyapanya, wajahnya kelihatan tidak senang. Saya suka sekali melihat wajah cuek itu, menggemaskan sekali. "Titou kelas berapa sekarang?" Tanya saya "Kelas dua " "Gurunya siapa ?" "Ibu Nelly " Saya tidak ingat lagi percakapan kami selanjutnya, karena saya terbangun oleh suara tangisan saya sendiri. Saya paling tidak suka menangis dalam tidur, tapi sesekali itu terjadi. Entah kenapa saya menangis, tapi mungkin di bawah alam sadar saya, saya memikirkan dengan sungguh-sungguh keadaan si ndut di Melbourne sana. Percakapan-percakapan panjang kami belakangan ini tentang perjuangan dan kesabaran di tahun pertama kuliah di luar negeri. Setelah masa bahagia mendapat beasiswa berakhir, maka akan ada masa satu semester atau satu tahu...

Sabtu mendung di Bonn

Image
Sepertinya musim gugur sudah tiba di kota ini. Hujan rintik yang mempesona makin sering bertandang, menyapa malu-malu, membawa sejuta pesan dari langit yang sendu. Saya mulai memakai baju berlapis lagi. Berganti sepatu yang tak basah begitu saja oleh butir air. Kota ini, sebentar lagi saya tinggalkan. Maka hari ini, dari balik jendela yang dibuka lebar, saya membiarkan kamar saya yang berantakan disapa udara yang sejuk. Daun mulai berguguran Secangkir teh vanila berbalur madu, bubur kacang hijau, dan sepiring nasi goreng, pada suatu siang yang dihabiskan memikirkan ini itu. Kadang kesendirian ini begitu melenakan, kadang saya begitu ingin lari darinya.. riuh, hiruk pikuk atau sendu dan diri, entah mau memilih yang mana..

setelah berjalan-jalan

Rabu kemarin, saya balik ke Bonn setelah 12 hari melakukan perjalanan melihat delapan kota. Balik ke Bonn, rasanya perjalanan kemarin cuma mimpi. Kota ini membuat saya merasa tidak pernah pergi kemana-mana. Ingin rasanya menulis catatan perjalanan saya itu, sebelum semuanya terlupakan. Detil-detil yang ingin saya ingat. Rasa dan kenangan yang mestinya harus ditulis dan dibagi. Bahkan setelah beberapa haripun, bahu saya masih terasa pegal, kaki masih nyut-nyut, untung ransel sudah saya bongkar isinya. Nantilah, akan saya tulis semuanya, dan memilih foto-foto yang saya ambil dari kamera hijau saya yang terlalu sederhana merekam kenangan. nanti, kalau presentasi saya udah beres, persiapan field trip udah matang.. entah kapan.. hehehe..

time to say good bye

Hari ini, pagi-pagi saya ke stasiun kereta untuk mengantarkan Kang Asep dan Uni Reni yang back for good ke Indonesia. Kang Asep menyelesaikan PhDnya kurang dari 3 tahun. Ini sungguh menjadi sebuah inspirasi buat saya, karena ternyata ada yang selesai PhD tepat waktu. Pasangan suami istri ini sungguh menjadi panutan buat saya, mereka sangat baik hati dan senang menolong. Saya jadi yakin, Allah Swt memudahkan urusan keduanya karena mereka selalu berusaha membuat hidup sahabat-sahabatnya lebih mudah. Balik lagi ke cerita di stasiun, saya sudah tau rasanya mengantarkan teman back for good. Jadi, mental sudah siap. Toh, Insya Allah suatu saat akan bertemu lagi di Indonesia. Sahabat datang dan pergi, yang paling penting kita tetap menjaga persahabatan itu. Jadi, saya sama sekali gak berniat untuk menangis atau apapunlah. Hanya saja, ketika Uni memeluk saya, dan mendoakan supaya saya cepat dapat jodoh, air mata saya turun dengan otomatis. Gagal rencana saya untuk tetap cool dan tersenyum ...

Rekonstruksi kenangan

Akhirnya, semua rute dan tempat yang pernah saya pergi berdua dengan dia, sudah saya rekonstruksi ulang lagi. Saya menyusuri rute-rute itu sendirian satu persatu dengan perencanaan yang matang. Rasanya memang berbeda, sebuah perjalanan ketika ada seseorang di samping. Biasanya kami berbicara banyak dan tiba-tiba sudah sampai di tujuan. Namun, bukan berarti ketika sendirian lebih menyedihkan. Kalau sendirian lebih banyak yang bisa dilihat apalagi dirasakan, Termasuk mengingat kenangan yang akan segera ditimpa dengan kenangan baru. Waktu berjalan lebih lambat dan tujuan terasa agak jauh. Rekonstruksi ini, buat saya penting dalam rangka move on. Hanya saja, entah kenapa, jalan kami masih terus bersinggungan. Masih saja dia, bisa tiba-tiba muncul dalam sore saya. Muncul dengan sebab-musabab yang bahkan tak pernah terpikir sebelumnya. Menciptakan kenangan baru, padahal kenangan lama sudah susah payah saya timpa. Kalau seperti ini, maka rekonstruksi saya jad...

The Waiting Place: Bintang-bintang

The Waiting Place: Bintang-bintang : "Setiap malam, sembari mendengar dongeng ibu, kami menatap bintang-bintang dari celah loteng kamar tidur kami"