Tulisan ini saya tulis karena setelah sesi skype 2 jam-an dengan sahabat saya uci, dia lupa menanyakan tentang lebaran saya di Dortmund tahun ini. Begini ceritanya, Beberapa hari sebelum lebaran, teman-teman yang berjenis laki-laki, yang selama tiga minggu di sini berbuka puasa dan salat di Mesjid Taqwa Dortmund sudah bertanya-tanya tentang dimanakah kami akan salat. Mereka sampai mengirimkan email ke pengurus mesjidnya, dan Alhamdulillah dijawab secara email dan secara langsung. Oia, saya mau cerita tentang teman-teman saya yang selalu bersemangat bercerita tentang menu buka puasa di mesjid ini yang sungguh enak dan banyak. Kadang-kadang makanan tersebut masih bisa dibungkus dan dibawa pulang untuk kami. Sehari sebelum lebaran, kami sudah mulai memasak lontong (lontong sachet yang harus direbus 3 jam lebih) dan teman-teman. Berhubung masaknya pake kompor listrik maka jadi semakin lamalah memasaknya. Masalah lontong ini sebenarnya hanya tradisi dan sedikit bisa jadi pelip...
Apa saja amalan Ramadhanmu ini sahabat? Waktu masih di Banda, saya berkata pada diri saya, nanti kalau sudah di DE saya akan lebih rajin shalat dan tilawah, karena pasti tidak akan kepanasan meski tidak ada AC. Ramadhan kali ini memang sangat panas di Aceh hingga harus shalat minta hujan. Ketika sampai di sini, dalam beberapa hari penyesuaian waktu siang yang terlalu panjang dan jam biologis yang amburadul (alasan) saya meninggalkan salat terawih dan witir. Lalu perlahan mulai mengatur strategi buat menjalankan salat sunat di bulan Ramadhan itu. Membaca al-Quran yang sejak saya di Haji belum khatam juga karena sehari Cuma satu halaman saja. Namun godaan buat online sungguh tak terelakkan. Maka lebih banyak mungkin saya di depan laptop daripada duduk tenang dan bertilawah. Ketika jauh seperti ini, sungguh saya mengerti, satu-satunya pertolongan yang paling besar hanya dari Allah Swt. Bulan Ramadhan yang sungguh penuh berkah ditempat yang jauh ini memberikan saya kesempatan bua...
Ternyata butuh waktu untuk mengenal. Bahkan untuk berkenalan dengan sebuah kota, entah berapa lama akan jadi karib. Kota ini dalam dua hari yang aku kenal, hanya sebatas jendela kamar dan sepotong balkon. Gerak-gerik tetangga di seberang rumah, kadang terekam pelan. Kadang jendela itu ditutup tirai saja, maka kota ini hanya sebuah kamar yang karib dengan laptop dan selimut. Beberapa hari kemudian, berkenalan dengan jaringan kereta yang sungguh rumit. Berjalan menuju stasiun kereta, membeli tiket di mesin, menikmati laju dan berganti kereta. Duduk manis menikmati pemandangan dari balik kaca, mencoba mengingat semua detil agar tak tersesat nantinya. Butuh waktu juga untuk memberanikan diri memenuhi undangan berbuka di kota sebelah. Berteman dingin ketika salah turun stasiun dan kembali menikmati perkenalan dengan pusat kota, ketika harus berjalan pulang karena sudah lewat tengah malam. Pelan-pelan mengingat arah dan belokan, membuka mata melihat hal-hal menarik dan menikmati ha...