Posts

buku yang datang pada saat yang tepat

Salah satu teman phd saya, minggu lalu bercerita, bahwa, temannya menyarankan dia untuk membeli buku yang judulnya : completing your qualitative dissertation, a road map from beginning to end. Kata teman saya, temannya itu berhasil menyelesaikan phd dengan berpedoman pada buku itu. Buku itu seperti buku self help dan motivation buat phd student yang tersesat seperti kami. saya lalu memesannya lewat amazone, dua hari kemudian bukunya udah ada di kotak pos saya. saya membaca buku itu pelan-pelan, di rumah, di perjalanan weekend dan hari ini meletakkannya di atas meja, mencoba pelan-pelan mengikuti petunjuk yang disajikan dengan sangat simpel. ah, kenapa baru sekarang saya ketemu buku ini? kenapa gak sejak dulu. meski sebenarnya saya udah on track dan buku ini lalu datang di saat yang tepat, membantu saya menulis findings dan analisis chapter. menurut buku ini masih banyak pekerjaan saya, semoga bisa selesai tepat waktu.

writing block again

Hari ini, dua orang, dengan bersungguh-sungguh meminta satu kopi disertasi saya. Satu orang lagi minta poin-poin dari hasil dan kesimpulan saja. Saya, detik ini, stuck dirimba maya, buka facebook, baca berita, meski mengatasnamakan mencari data. Kertas putih masih memanggil buat ditulis. Lima hari berperang dan kalah, tidak satu halaman pun tertulis. Seperti kabut yang turun hari ini di Bonn, benak saya dipenuhi ini itu yang membuat semua kelihatan begitu mengerikan. Mampukah saya menyelesaikannya tepat waktu? Inspirasi, datanglah, bantu saya menulis disertasi ini.

kue lapis winter

Kabar baiknya, Bonn tidak terlalu dingin lagi. empat derajat hari ini bandingkan dengan minus lima ketika minggu lalu saya balik ke Bonn. Hidup sudah berjalan normal, kampus rumah, kampus rumah, weekend ngopi. Hari ini saya menyadari, pagi ini ketika berjalan ke kampus, saya seperti biasa mengenakan pakaian berlapis-lapis. Saya perhatikan orang lain juga berpakaian seperti itu jika musim dingin. Lapis pertama, atasan atau kaos yang agak tebal menempel tubuh, dengan turtle neck atau yang kerahnya agak tinggi. Lalu dilapis lagi pullover hoody Lalu dilapis lagi jaket tebal, jaket winter yang benar-benar ampuh menahan dingin Fungsi setiap lapis ini berbeda, kadang kalau sudah tidak terlalu dingin pullover bisa dibuka atau malah jaketnya dibuka. lalu ada syal, thermal, kaos kaki tebal, sarung tangan, dan sepatu winter. Hari ini lapisan yang saya pakai agak banyak. Lapis pertama, kaos winter, belinya dua winter lalu Lapis kedua, atasan abu-abu, belinya di Adelaide, kem...

First day in Bonn

Balik ke Bonn setelah lebih dari 24 jam perjalanan berada di cakrawala. Aku tidak bisa mengatakan aku tidak menikmati perjalanan ini. Terbang, bukankah itu suatu mukjizat, bisa berada di langit dan melihat awan putih sejajar mata? Belum lagi ketika mataku menikmati lapisan salju yang menutupi pohon ketika akan mendarat di Bandara Koeln. Aku tersenyum bahagia,  ketika melihat, lelaki itu, berdiri, di gerbang kedatangan, menatap lurus mencoba mencari sosokku yang ternyata sudah duluan berdiri menunggunya di luar. Jangan berpikir kami akan berpelukan, atau dia membawakan aku bunga, tentu saja tidak. Dia segera mengambil alih koper hitamku dan dengan rela mendengarkan aku memuntahkan semua yang kusimpan di kepalaku duapuluh empat jam terakhir sendirian. Sungguh malang nasibnya, ha..ha.. Lalu aku sendirian lagi, di kota yang ternyata memang telah jadi rumahku. Belanja makanan untuk mengisi kulkas, mengisi pulsa untuk hapeku, memasang sprei dan merebahkan diri di kamar yang memb...

September di hatiku

September, begitu banyak yang terjadi. Masalah-masalah yang sangat pribadi sehingga sulit untuk bisa menuliskannya di blog. September ini, saya lebih banyak menulis diary, agar semua hal penting tersebut tidak terlupa dan jadi pelajaran untuk di masa depan. September, hari semakin pendek, pagi yang mendung dan malam semakin cepat menjemput. Daun malu-malu berguguran dari pohon. Alhamdulillah semua terlalui dengan baik. Akhir bulan ini saya akan pulang dan melakukan fieldwork yang kedua di Aceh. Semua persiapan dan checklist yang dibuat bisa dilaksanakan dengan baik. Mulai dari meeting dengan supervisor, ngurus visa dan buat kuesioner. September ini, beberapa kejadian membuat saya seperti terlahir kembali, menjadi kupu-kupu yang keluar dari kepompongnya. Saya jadi punya sudut pandang baru dalam memandang beberapa hal dalam hidup yang selama ini saya yakini kebenarannya. Beberapa catatan yang saya bisa bagi, kita harus selalu siap dengan ketidakpastian, jangan takut menghadap...

wiken di Bonn

weekend ini cukup sibuk dan heboh. mulai dari jumat sore, farewell party dengan sahabat saya, sekaligus merayakan ulang tahun teman saya. Saya diundang makan soto dan kue. rasanya menyenangkan sekali bisa mengunjungi rumah sahabat, ngobrol dengan keluarga kecil mereka yang menyenangkan. Anak mereka yang paling besar, berumur 6 tahun, tiba-tiba memegang perut saya yang baru saya isi dengan dua mangkuk soto dan bertanya dengan polosnya "Tante hamil ?" rasanya, pengen terbang ke bulan. hahaha... saya genduuut dan baju saya memang sudah diprotes beberapa pihak mirip daster. "Noch nicht (belum)  Fathia, ..." dan sekali lagi sekali lagi dia bertanya hal yang sama. sampai diplototin ibunya. Ya semoga doa fathia didengarkan oleh Allah Swt dan saya segera dikirimkan calon bapaknya anak-anak.. amiiin sabtu pagi-pagi, saya ngantarin dwi ke stasiun karena dwi melanjutkan tahun kedua masternya ke belgia dengan program erasmus mundus. sorenya siap-siap ke nikahan teman ...

saya, sepuluh tahun yang lalu

Sebulan ini, saya mencoba mengingat kenangan apa yang tertinggal dari masa hampir empat tahun kuliah di Bogor. Kenangan itu semakin lama semakin kabur. September ini, genap sepuluh tahun saya selesai kuliah, meninggalkan bogor dan memulai hidup yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan. Sepuluh tahun kemudian, saya di Jerman. Waktu kuliah dulu, saya bukanlah sosok populer di kelas. Mau tidak mau, saya harus mengakui angkatan saya kompak tapi tidak kompak. Ada gap antara yang populer dan yang biasa saja seperti saya. Syukurnya, saya masih bisa nge-gank, artinya kalau kuliah tidak duduk sendirian atau kalau pulang kuliah ada yang menemani. Saya punya tiga orang teman kuliah tempat bergantung. Waktu kuliah dulu, tanpa mereka mungkin, perkuliahan saya tidak terlalu mulus. Mereka tempat saya pinjam catatan dan soal ujian tahun lalu, dan berbagi semua suka duka masa kuliah. waktu itu, saya pasif sekali, terlalu sibuk dengan diri sendiri. jurusan saya isinya hampir semua laki-laki. ...