Posts

September di hatiku

September, begitu banyak yang terjadi. Masalah-masalah yang sangat pribadi sehingga sulit untuk bisa menuliskannya di blog. September ini, saya lebih banyak menulis diary, agar semua hal penting tersebut tidak terlupa dan jadi pelajaran untuk di masa depan. September, hari semakin pendek, pagi yang mendung dan malam semakin cepat menjemput. Daun malu-malu berguguran dari pohon. Alhamdulillah semua terlalui dengan baik. Akhir bulan ini saya akan pulang dan melakukan fieldwork yang kedua di Aceh. Semua persiapan dan checklist yang dibuat bisa dilaksanakan dengan baik. Mulai dari meeting dengan supervisor, ngurus visa dan buat kuesioner. September ini, beberapa kejadian membuat saya seperti terlahir kembali, menjadi kupu-kupu yang keluar dari kepompongnya. Saya jadi punya sudut pandang baru dalam memandang beberapa hal dalam hidup yang selama ini saya yakini kebenarannya. Beberapa catatan yang saya bisa bagi, kita harus selalu siap dengan ketidakpastian, jangan takut menghadap...

wiken di Bonn

weekend ini cukup sibuk dan heboh. mulai dari jumat sore, farewell party dengan sahabat saya, sekaligus merayakan ulang tahun teman saya. Saya diundang makan soto dan kue. rasanya menyenangkan sekali bisa mengunjungi rumah sahabat, ngobrol dengan keluarga kecil mereka yang menyenangkan. Anak mereka yang paling besar, berumur 6 tahun, tiba-tiba memegang perut saya yang baru saya isi dengan dua mangkuk soto dan bertanya dengan polosnya "Tante hamil ?" rasanya, pengen terbang ke bulan. hahaha... saya genduuut dan baju saya memang sudah diprotes beberapa pihak mirip daster. "Noch nicht (belum)  Fathia, ..." dan sekali lagi sekali lagi dia bertanya hal yang sama. sampai diplototin ibunya. Ya semoga doa fathia didengarkan oleh Allah Swt dan saya segera dikirimkan calon bapaknya anak-anak.. amiiin sabtu pagi-pagi, saya ngantarin dwi ke stasiun karena dwi melanjutkan tahun kedua masternya ke belgia dengan program erasmus mundus. sorenya siap-siap ke nikahan teman ...

saya, sepuluh tahun yang lalu

Sebulan ini, saya mencoba mengingat kenangan apa yang tertinggal dari masa hampir empat tahun kuliah di Bogor. Kenangan itu semakin lama semakin kabur. September ini, genap sepuluh tahun saya selesai kuliah, meninggalkan bogor dan memulai hidup yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan. Sepuluh tahun kemudian, saya di Jerman. Waktu kuliah dulu, saya bukanlah sosok populer di kelas. Mau tidak mau, saya harus mengakui angkatan saya kompak tapi tidak kompak. Ada gap antara yang populer dan yang biasa saja seperti saya. Syukurnya, saya masih bisa nge-gank, artinya kalau kuliah tidak duduk sendirian atau kalau pulang kuliah ada yang menemani. Saya punya tiga orang teman kuliah tempat bergantung. Waktu kuliah dulu, tanpa mereka mungkin, perkuliahan saya tidak terlalu mulus. Mereka tempat saya pinjam catatan dan soal ujian tahun lalu, dan berbagi semua suka duka masa kuliah. waktu itu, saya pasif sekali, terlalu sibuk dengan diri sendiri. jurusan saya isinya hampir semua laki-laki. ...

cerita kemarin di Bochum

Kemarin saya ke Bochum, dengan misi untuk membeli meja dan kursi di IKEA. Saya ditemani rahmi ke IKEA Dortmund yang hanya sepuluh menit naik kereta tapi jarak Bonn-Bochum, harus ditempuh 2 jam lebih naik kereta. Perjalanan kemarin adalah perjalanan melarikan diri dari Bonn sekaligus menuntaskan misi saya membaca buku yang saya pinjam dari perpustakaan yang harus segera dibalikin. Sampai Bochum, Ruhr Universitaet Bochum, kami makan siang di kantin kampusnya yang keren sekali. Saya juga janjian ketemuan dengan adik kelas saya yang anak Aceh juga dan dua orang anak Indonesia temannya teman saya yang jadi teman baru saya. Selesai makan, saya temani rahmi salat di musala kampus. Saya tidak pernah berpikir, di Jerman ini ada kampus yang menyediakan fasilitas lengkap untuk salat (mengingatkan saya pada musala kampus saya di Flinders) dan hebatnya lagi, ada salat berjamaah rutinnya. Saya melihat di tempat salat laki-laki, banyak yang membaca quran menunggu salat (mengi...

my research exclusion

Sore ini, saya ditinggal sendirian di opis. Teman-teman sudah pada pulang duluan. Hari-hari musim panas seperti ini, sungguh banyak godaan untuk bertahan di kantor sementara cuaca di luar bagus sekali. Hanya saja, saya ingin sebentar menikmati office ini seorang diri, jarang-jarang saya bisa sendirian di ruangan ini. Hari ini, akhirnya perpanjangan beasiswa saya keluar. Alhamdulillah, setahun lagi untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Harus lebih bersemangat. Supervisor saya mengucapkan selamat dan mengingatkan saya harus membuat meeting yang panjang dengan beliau sebelum balik buat fieldwork yang kedua. Begitu banyak yang harus dilakukan semoga semua berjalan lancar dan sesuai rencana. seperti sebuah kata yang saya dapat hari ini dari vocabulary.com, exclusion : if you love someone to the exclusion of all others, he or she is the only one for you. Mungkin ini saatnya membuat research saya sebuah exclusion, hahaha..

Last day on July : semeriah-meriahnya hari

Last day on July, masih musim panas di Bonn Pagi-pagi, saya temani mbak Ayu perpanjangan visa di Auslanderarmt. Jam 8 pagi, kami sudah di sana dan dilayani dengan petugas yang lembut sekali. Beliau tidak keberatan berbahasa Inggris, padahal saya dibawa karena salah  satu syarat membuat perpanjangan visa bagi yang tidak bisa berbahasa jerman adalah membawa seseorang yang bisa berbahasa jerman. Ups, jangan salah, saya adalah cadangan terakhir setelah dua orang yang seharusnya menemani mbak ayu tidak bisa menemani. Sambil mengurus kami, si mas yang lembut itu memutar radio dengan lagu-lagu berbahasa inggris yang menjadikan suasana lebih terasa seperti di sebuah cafe daripada sebuah ruangan di ruang imigrasi yang kaku. Beres urusan di imigrasi, kami sarapan pagi di Mc.Donald Cafe, warung kopi murah meriah, kali ini saya salah pesan, pengennya segelas coklat putih malah kesebut coklat panas. Hahaha, bahasa jerman saya memang makin gak jelas. Kami duduk ngobrol ini itu sambil sarapan...

Lebaran jilid tiga di Jerman

Lebaran kali ini saya memilih escape dari Bonn dan merayakannya di Hamburg. Ini lebaran kali ketiga di Jerman, setelah dua tahun lalu saya merayakannya di Dortmund dan Stuttgart. Bonn terlalu hening untuk momen lebaran, saya sebatang kara di Bonn. maka ketika di Hamburg, hari meugang kami sudah selesai memasak lontong, sambal goreng hati, rendang, tauco, dan sayur lodeh. Malam lebaran, saya berbuka dengan lontong dan sukses membuat perut saya kaget-kaget karena Ai yang membuat rendang dan sambal hati dengan level kepedasan yang cukup heboh. Pagi lebaran kami naik kereta ke KJRI. Lebaran kali ini, khutbahnya dalam bahasa Indonesia bersama teman-teman sebangsa senegara. Pulang salat, kami jalan-jalan di zentrum sebentar lalu pulang buat ngelontong lagi. Besoknya pagi-pagi saya balik ke Bonn. lima jam di kereta, saya duduk sendirian tertidur tidur dan tak sampai-sampai. Hari ini, saya sudah di kantor. Meski kondisi belum fit, saya harus datang. Teman seruangan saya janji mem...